Budaya Ekspos di Jagat Maya

Kompas.com - 26/05/2008, 19:54 WIB

TAMPIL atau terkucil. Demikian pameo tegas yang muncul di era cyber atau yang disebut pula globalisasi 3.0 ( generasi ketiga) ini. Siapa saja bisa populer, terkenal, dalam waktu singkat melalui jaringan sosial yang terbangun di dunia maya.

Band indie asal Bandung, Alone at Last, yang terakhir kali tampil memikat dalam acara LA Light Indiefest beberapa bulan lalu, patut berbangga hati. Klip video Amarah Senyum dan Airmata yang berdurasi 4 menit 2 detik itu tampil sebagai salah satu klip terpopuler di situs pemutar video ternama : YouTube (www.youtube.com ). Diakses oleh 23.293 pengunjung dalam waktu kurang dari satu tahun sejak video itu di-posting .

Dibandingkan video Lim Jeong-hyun yang sangat fenomenal, dimana diakses 9 juta netter di seluruh dunia hanya dalam waktu kurang setengah tahun di situs yang sama, prestasi Alone at Last yang m engusung musik beraliran Emo (emosional) ini memang masih sangat jauh. Namun, keberadaannya mampu m engalahkan klip dari band-band ternama asal Bandung macam She, Nineball, dan The Changcuters.

Sebagai salah satu situs video sharing, akhir-akhir ini YouTube tengah naik daun. Berdasarkan riset ComScore (lembaga pemeringkat situs) pada Mei 2006, popularitas situs ini sangatlah cepat. Dalam satu bulan itu, pengunjung mencapai 12,6 juta. Hampir saja menyamai perolehan Facebook ( www.facebook.com) , salah satu situs pencari kawan asal Amerika Serikat, yaitu dengan tingkat kunjungan 14 juta orang.   

Pemanfaat terbesar layanan video upload secara gratis ini mayoritas grup band, termasuk juga di Bandung. Band yang merasakan besarnya manfaat layanan pembentuk jaringan di dunia maya i ni salah satunya The Super Insurgent Group of Intemperance Talent (The SIGIT). Band yang bermarkas di sebuah daerah di Jalan Pahlawan, Bandung, ini berhasil menggandeng label asing asal Australia, FFCUTS & Caveman!, semata-mata akibat jasa situs MySpace ( www.myspace.com).

Menurut Manajer The SIGIT, Gino Herryansyah (26), major label negeri kanguru itu tertarik mengikat kontrak rekaman dengan The SIGIT pada tahun 2006 setelah mereka melihat posting demo video yang di- upload di situs Myspace. Lewat situs ini pula mereka dipincut sebuah lembaga promotor di Inggris untuk tampil di negeri itu. Secara rutin, The SIGIT tampil di Australia. Pernah juga di Singapura.

Murah dan efektif

Ini (MySpace) merupakan media promosi yang sangat murah dan efektif buat kami. Asal betah saja di depan komputer. Biayanya paling-paling untuk akses internet, ujar Gino, Jumat (23/5). Mereka pun rajin untuk upload klip terbaru dan aktivitas mereka di Myspace dan Youtube. Di Youtube misalnya, ada sedikitnya 8 video klip hasil posting mereka.

Informasi lengkap mengenai profil, karya, jadwal kegiatan atau pentas, informasi album dan pernik, hingga dokumentasi foto mereka tersaji di Myspace. Tidak hanya itu, layanan situs yang diakses sedikitnya 40 juta orang tiap bulan ini memberikan jasa yang memungkinkan mereka menerima komentar dan masukan dengan penggemar langsung. Profil mereka di shared hosting gratis ini telah dikunjungi 137.368 orang. Jaringan teman sebanyak 8.049 profil.

Band pengusung aliran rock and roll progresif ini jauh dari yang namanya gaptek . Bagaimana tidak, para personilnya ad alah jebolan kampus -kampus top bidang teknik di Bandung salah satunya Institut Teknologi Bandung. Salah satu person ilnya, Aditya Bagja, yang meraih gelar sarjana teknologi informasi dari Maranatha, merupakan sosok yang cukup berperan dalam mendongkrak popularitas mereka via dunia maya. Karena, ia sangat rajin posting dan mengembangkan situs mereka di internet.

Di internet, masih banyak layanan lainnya yang memungkinkan seseorang tenar seketika. Selain Myspace dan Youtube yang sangat populer, masih ada situs free domain (cuma-cuma) pembangun jaringan sosial lainnya yang bisa dimanfaatkan netter macam Friendster (www.friendster.com ), Wordpress (www.wordpress.com), Multiply ( www.multiply.com), dan Blogspot ( www.blogger.com). Ada pula yang lokal macam Live Connector (www.liveconnector.com).

Budaya tampil

Menurut Head of Digital Business PT Telkom Widi Nugroho yang juga ikut menangani Indigo (Indonesia Digital Con tent) fenomena pemanfaatan jaringan sosial ini berhubungan dengan munculnya budaya tampil yang dimungkinkan dari pesatnya perkembangan teknologi digital, khususnya internet.

Kalangan hobis atau komunitas tertentu dengan difasilitasi media internet, membe ntuk sub-sub kultur baru. Sisi positifnya, ungkapnya, fenomena budaya tampil ini merangsang tumbuhnya insan-insan kreatif pada pelbagai bidang. Pada akhirnya, akan menciptakan industri-industri kreatif baru.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau