Jupe: Belah Duren itu Gue Banget

Kompas.com - 29/05/2008, 18:47 WIB

 

JAKARTA, KAMIS -- Pohon itu sebenarnya baru mulai tumbuh. Namun angin kencang sudah menerpanya. Angin kencang --berupa kritik dan protes dari sejumlah kalangan-- itu menerpa Julia Perez yang baru saja menapaki kariernya sebagai penyanyi.

Kama Sutra, album dangdutnya yang pertama dilemparkan ke pasaran belum lama ini, menuai protes, teguran, dan kecaman. Banyak kalangan memojokkannya.Pemicunya, selain karena lagu-lagunya dinilai sebagian orang mengarah ke hal-hal yang tergolong porno, juga karena Jupe --begitu ia disapa-- dianggap mengampanyekan seks bebas lantaran membagi-bagikan kondom dalam promo album miliknya itu.

Banyak kalangan memojokkannya. Bahkan Menteri  Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, juga sempat mengeluarkan teguran dan menyayangkan langkahnya membagi-bagikan alat kontrasepsi untuk laki-laki itu.

Tapi bagi pemilik nama asli Yuli Rachmawati itu, segala penilaian orang, juga kritikan dan teguran justru ia pandang sebagai wujud perhatian dan cara masyarakat menyayanginya. "Ada pelajaran yang aku petik dari sana. Ke depan aku akan mencoba memperbaiki diri, tidak mengulangi kesalahan dan terus berkarya," ujarnya dalam perbincangan khusus dengan Kompas.com di Jakarta awal pekan ini. 

Namun, satu penegasan Jupe, yang pernah tinggal di Prancis dan Belanda ia takkan mundur dari jalur musik dan bertekad untuk tetap berkarya di jalur yang dinilainya cukup menantang itu. Jika pun lagu-lagunya dinilai mesum, perempuan yang kerap bicara blak-blakan ini punya pandangan, yakni tergantung cara orang menilai. Lagu Belah Duren, katanya memisalkan, bahkan disukai anak-anak di bawah umur.  

Lantas bagaimana  perempuan kelahiran Jakarta, 15 Juli 1980 ini memberikan penjelasan terkait lagu yang justru layak dikonsumsi orang-orang dewasa itu? Seberapa pula animo dengan albumnya itu. Berikut obrolan lengkapnya.

JJAKARTA, KAMIS -- Pohon itu sebenarnya baru mulai tumbuh. Namun angin kencang sudah menerpanya. Angin kencang --berupa kritik dan protes dari sejumlah kalangan-- itu menerpa Julia Perez yang baru saja menapaki kariernya sebagai penyanyi.

Kama Sutra, album dangdutnya yang pertama dilemparkan ke pasaran belum lama ini, menuai protes, teguran, dan kecaman. Banyak kalangan memojokkannya.Pemicunya, selain karena lagu-lagunya dinilai sebagian orang mengarah ke hal-hal yang tergolong porno, juga karena Jupe --begitu ia disapa-- dianggap mengampanyekan seks bebas lantaran membagi-bagikan kondom dalam promo album miliknya itu.

Banyak kalangan memojokkannya. Bahkan Menteri  Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, juga sempat mengeluarkan teguran dan menyayangkan langkahnya membagi-bagikan alat kontrasepsi untuk laki-laki itu.

Tapi bagi pemilik nama asli Yuli Rachmawati itu, segala penilaian orang, juga kritikan dan teguran justru ia pandang sebagai wujud perhatian dan cara masyarakat menyayanginya. "Ada pelajaran yang aku petik dari sana. Ke depan aku akan mencoba memperbaiki diri, tidak mengulangi kesalahan dan terus berkarya," ujarnya dalam perbincangan khusus dengan Kompas.com di Jakarta awal pekan ini. 

Namun, satu penegasan Jupe, yang pernah tinggal di Prancis dan Belanda ia takkan mundur dari jalur musik dan bertekad untuk tetap berkarya di jalur yang dinilainya cukup menantang itu. Jika pun lagu-lagunya dinilai mesum, perempuan yang kerap bicara blak-blakan ini punya pandangan, yakni tergantung cara orang menilai. Lagu Belah Duren, katanya memisalkan, bahkan disukai anak-anak di bawah umur.  

Lantas bagaimana  perempuan kelahiran Jakarta, 15 Juli 1980 ini memberikan penjelasan terkait lagu yang justru layak dikonsumsi orang-orang dewasa itu? Seberapa pula animo dengan albumnya itu. Berikut obrolan lengkapnya.

Orang banyak menganggap lagu jagoan Belah  Duren itu mesum. Bagaimana pendapat kamu? 
Kepala orang beda-beda. Buat aku enggak. Lagu-lagu dalam albumku itu tipe gua banget, karena semua lagu gua yang pilih. Lagu-lagu album gua ini, lebih mengarah ke lagu-lagu lucu-lucuan bukan lagu yang bikin horny.

O ya?
Iya. Kadarnya memang untuk lucu-lucuan, dan konotasi orang pasti akan beda-beda. Kalau orang menganggap lagu gua mesum, berarti otaknya ngeres aja kale. Coba dengerin lagu-lagu Benyamin. Lucu-lucu kan? Kalau dengerinnya setengah-setengah ya konotasinya pasti juga macem-macem.  Lu tahu kan lirik lagunya yang begini (Jupe kemudian melantunkan  sepenggal lirik lagu Benyamin), Bang di sini aje bang... kalau dengernya setengah-setengah, ya pasti mikirnya mau ngapain ya di tempat sepi. Pasti mau ngapa-ngapain. Dan itu, menurut aku lucu.

Kayak apa sih proses pemmbuatan album ini?
Proses pembuatan albumnya enam bulan. Aku beli putus. Yang ciptain Mas Abu Nawas dan Randy Yusuf. Manajemen aku memberikan hak veto buat aku untuk memilih lagu-lagunya. Jadi bisa dibilang, ini album gua banget. Aku juga merangkap sebagai produser eksekutifnya.

Kenapa lagu Belah Duren dipilih jadi lagu jagoannya? 
Lucu aja liriknya. Aku suka. Siapa yang nggak suka duren? Pastinya sebelum makan duren, ya harus ngebelah dulu kan. Aku bersyukur, ternyata banyak yang suka lagu itu, malahan anak-anak juga.    
  
O ya, jadi anak-anak suka juga? 
Iya. Aku ditanya anak-anak, 'Kenapa sih Belah duren-nya harus malam-malam?' Ya terus gue jawab dong, 'ya enak malam-malam. Kalau siang-siang, apalagi siang bolong, ya panas dong.'  Aku jelasin dengan positif. Kalau orang dewasa, ya konotasinya pasti akan beda-beda. Kalau mikir mesum, ya pasti lagunya pasti jadi mesum.
 
Orang menganggap kamu jual keseksian saat menyanyi. Reaksi kamu?
Itu dia, aku nyanyiin lagu apa pun, orang pasti nganggepnya aku seksi. Orang banyak kategorikan aku ini penyanyi seksi. Buat aku, its ok. Kata orang, lihat muka gua aja udah bisa bikin orang goyang.  
 
Jadi senang dengan cap seperti itu?
Ok-ok aja. Sebagai penyanyi baru berarti imej-nya aku sudah dapat.  Menurut aku seksi itu juga bagian dari penjualan. Aku memang nggak dikategorikan sebagai perempuan yang berjilbab tapi nggak apa-apa. Aku nggak mau jadi orang lain. Jupe ya Jupe, dengan ciri khasnya. Kata orang nyablak. Sehari-hari aku orangnya tomboy dan biasa-biasa. Tapi saat aku dalam performa panggung, aku harus tampil sebagai Jupe yang seksi. 
 
Sejauh ini penjualannya seperti apa?

Lumayan. Sampai saat ini lebih dari 20 ribu kopi. Kalau Ring Back Tone (RBT), wah aku sendiri nggak tahu, tapi aku pikir sih kenceng juga.

Hmm, ngomong-ngomong soal duren, memang penyuka duren ya? 
Pasti. Aku suka banget sama duren.

Jenis duren yang Jupe suka? 
Duren montok...ha...ha, montong! Apalah namanya, pokoknya satu paket.
 
Kapan terakhir ngebelah duren

Ah, bisa aja lu ye mancing-mancing  gue. Ya terakhir ngebelah duren  di Yogya, waktu manggung di sana. Nah ini, jadi, sebelum makan duren, pastinya durennya kudu dibelah dulu kan

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau