Ke Mancanegara dengan Kebiasaan Banyak Orang

Kompas.com - 30/05/2008, 07:29 WIB

MATA Lal de Silva berbinar menyiratkan keyakinannya kalau produk lokal bisa bersaing di mancanegara. "Anda tahu kan, orang lokal suka dengan produk dari luar negeri. Itu juga yang kami pakai nanti di India," begitu kata orang nomor satu di The Harvest memulai perbincangannya dengan kompas.com di gerai terbaru toko roti, kue, dan cokelatnya di bilangan Jalan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (29/5).

Ya, buat Lal, roti, kue, dan cokelat adalah kesehariannya. Pria kelahiran Srilangka pada 30 Desember 1960 ini memang telah lama malang melintang di dunia kuliner. Sejak pindah ke Australia pada 1981, nama Lal selalu tercatat sebagai chef di hotel-hotel berbintang di Negeri Kanguru dan Israel.

Di Indonesia, Lal sejak 1996 menjadi Executive Pastry Chef di Hotel Aryaduta Jakarta. Hotel ini masuk dalam jaringan Hyatt International. Lalu, saat berkarier di Hotel Regent (kini Four Seasons) Jakarta, Lal meraih sertifikat You Make The Difference Achievement karena berhasil meningkatkan mutu dan pendapatan di pastry shop hotel tersebut. "Bagi saya, keberhasilan bisa dicapai jika saya mengerjakan sesuatu yang saya cintai dan saya bahagia ketika mengerjakannya," begitu Lal membeberkan kisah sukses reputasinya.

Berkali-kali

Mendirikan The Harvest sejak 2004, Lal boleh dibilang memang bertangan dingin. Gerai pertamanya di Jalan Senopati, Kebayoran Baru beranak- pinak dalam waktu relatif cepat. Dharmawangsa adalah gerai kelima The Harvest di Ibu Kota selain di Pondok Indah, Menteng, dan Kelapa Gading. Di Jawa Timur, ada satu gerai The Harvest yakni di Surabaya.

Kiprah Lal yang memandang kuliner sebagai karya seni rupanya tak berhenti sampai situ. Dalam waktu cepat pula, jumlah karyawannya yang tadinya cuma 25 kini melonjak jadi 300 orang.

Memandang bisnis roti, kue, dan cokelat sebagai pilihan menjanjikan, Lal menghadirkan The Harvest sebagai kuliner asal Eropa. Kalau menyempatkan diri datang ke salah satu gerainya, jangan harap konsumen menemukan nama-nama Indonesia pada menu. Semuanya dalam Bahasa Inggris.

Tapi, menurut hemat Lal, hal macam itu tak soal. "Yang penting orang datang berkali-kali ke sini," imbuh Lal yang mengaku merogoh kocek tiga miliaran rupiah lebih untuk investasi pada satu gerai.

Keyakinan penyuka dunia fotografi ini memang terbukti. Di telinga konsumen, nama-nama seperti strawberry cheese cake yang ukuran kecilnya sekitar 10 x 5 x 10 cm berbanderol Rp17.000 per buah, chocolate devil, hingga triple chocolate malah tak asing. Karuan saja, tiga menu itulah yang amat sering memenuhi pundi-pundi The Harvest yang kini menjadikan artis Dian Sastrowardoyo sebagai ikon teranyar pengganti aktor Ari Wibowo dan Tora Sudiro, sebelumnya. 

Berangkat dari "kebiasaan" konsumennya akan produk dari luar negeri itulah, seperti dikatakan Lal, India, Malaysia, Singapura, dan Thailand tahun ini adalah tujuan langkahnya ke mancanegara. Khusus soal India, Lal mengaku memahami betul karakter negeri berpenduduk lebih dari semiliar itu.

Inggris menjajah India dalam waktu lama sebelum akhirnya memerdekakan Negeri Sungai Gangga itu. Rupanya, pengaruh Inggris terekam kuat di benak orang India. "Mereka juga suka dengan produk dari luar negeri. The Harvest di India kan dipandang sebagai produk luar negeri," ujar Lal.

Saat ini, dalam pandangan Lal, perputaran uang di India begitu cepat. Sementara, seperti di Bangalore, New Delhi, dan Mumbai, gerai macam The Harvest sama sekali belum ada.

Terlebih Bangalore, kota ini menjadi pusat informasi dan teknologi. Jadi, ada begitu banyak orang berkecimpung di sana. "Makanya, di luar negeri, saya akan bawa The Harvest sebagai merek Indonesia. Itu cita- cita saya," kata Lal yang justru bukan berkewarganegaraan Indonesia ini sungguh-sungguh. (Josephus Primus)     

 

 

 

 

  

   

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau