Megawati: Pemerintah Jangan Ngecap, BLT Ajari Mengemis

Kompas.com - 01/06/2008, 11:57 WIB

JAKARTA, MINGGU - Pancasila mulai terlupakan beberapa tahun ini. Masyarakat dan pemerintah seakan terlalu sibuk dengan permasalahan perekonomian Indonesia di tengah keminusan anggaran pendapatan belanja negara saat ini.

"Padahal, Pancasila dibentuk saat Indonesia akan merdeka, dibangun dengan prinsip gotong royong. Saat jalan santai tadi, partisipan PDI P bernyanyi Maju Tak Gentar, Garuda Pancasila dan meneriakkan Merdeka! Aduh, hati saya rasanya bangkit kembali," ujar Ketua Umum PDI P, Megawati, Minggu (1/6).


Pada Minggu (1/6) ini, PDI P menggelar jalan santai bersama ratusan ribu pendukungnya. Sekembalinya dari HI, dia berorasi di sebuah panggung di Monas. Namun, ia menolak jika ini merupakan salah satu sarana untuk berkampanye.

Menurut dia, banyak yang mempertanyakan apakah Indonesia masih memerlukan falsafah bangsa. "Saya sedih, saya berdoa, negeri ini tidak akan merdeka jika tidak ada Pancasila," tuturnya.

Dia yakin rakyat dapat bangkit di tengah keterpurukan ekonomi yang ditambah dengan kenaikan harga BBM. Masalah yang dihadapi Indonesia saat ini, lanjutnya, tidak sebanding dengan perjuangan kemerdekaan dulu. "Kali ini hanya mendapat cobaan yang menurut saya bisa diatasi, asal pemerintahnya berpihak kepada rakyat. Jangan ngomong secara kecap," jelasnya.

Megawati juga mempertanyakan sampai kapan pemerintah mampu memberikan bantuan langsung tunai (BLT). Oleh karena itu, dia dengan tegas mengatakan tidak setuju dengan pemberian BLT.

Menurut dia, BLT melatih warga menjadi 'pengemis'. "Saya tidak setuju pemberian BLT. Seberapa kuat pemerintah bisa memberikan BLT. Itu membuat bangsa kita menjadi bangsa meminta-minta. Rakyat butuh kailnya, pancingannya, bukan ikannya," ujar Megawati saat berorasi di depan 150.000 partisipan PDI P.

"Ini bukan kampanye, tapi bener-benar ngomong ke warga PDI P," katanya.(BOB)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau