Proyek 10.000 MW Tahap II Hanya 30 Persen Andalkan Batubara

Kompas.com - 04/06/2008, 22:51 WIB


JAKARTA, RABU - Untuk mengatasi kekurangan listrik dan memenuhi kebutuhan tenaga listrik secara nasional yang masih terjadi di Perusahaan Listrik Negara (PLN), pemerintah menyiapkan program kelistrikan 10.000 MW tahap kedua yang mengandalkan hanya 30 persen bahan baku batu bara.

Selebihnya, pemerintah akan mengandalkan bahan baku energi yang terdiri dari panas bumi, air dan energi terbarukan.

Demikian disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dalam keterangan pers, seusai mengikuti rapat koordinasi mengenai percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (4/6). Rakor dipimpin oleh Wapres Muhammad Jusuf Kalla.

Hadir dalam rapat koordinasi itu sejumlah menteri di antaranya Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Negara Perencanaan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzeta, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menneg BUMN Sofyan Djalil, Dirut PLN Fahmi Mochtar dan Ketua Tim Harian Proyek Percepatan 10.000 MW Yogo Pratomo.       

"Kebutuhan listrik sekarang ini tumbuh hampir 10 persen, khususnya di beberapa daerah. Sementara, kapasistas listrik kita dari pembangkit tetap, karena itu kita akan terus mengalami kekurangan. Oleh sebab itu, pemerintah memutuskan Program Listrik 10.000 MW tahap kedua yang tidak didominasi oleh energi batubara seperti halnya proyek 10.000 MW tahap pertama," kata Purnomo.

Menurut Purnomo, batubara hanya sebesar 30 persen. Adapun, selebihnya 70 persen berbahan panas bumi yang potensinya sebesar 27.000 MW dan hidro atau air dengan potensi 60.000 MW serta ditambah oleh energi baru dan energi terbarukan.    

"Karena beban dan dampak polusi batubara di Jawa sudah cukup tinggi dari program kelistrikan 10.000 MW tahap pertama, maka proyek batubara hanya akan dibangun di luar Jawa. Kalau Pulau Jawa kekurangan pasokan listrik, maka tenaga listrik bisa ditransmisikan ke Jawa," tambahnya.

Mengenai apakah energi baru dan terbarukan yang akan dikembangkan itu termasuk energi tenaga nuklir, Purnomo menjawab, "Titik beratnya panas bumi dan hidro, sedangkan angin, surya dan lain-lain masih perlu dicek. Kami diberi waktu satu bulan untuk mengkaji program tersebut."

Mengutip pernyataan Wapres Kalla, Purnomo mengatakan bahwa proyek ini bersifat multi-years sehingga tidak bisa dilaksanakan hanya oleh satu periode kabinet saja. "Saat ini Departemen ESDM bersama PLN sedang mempersiapkannya," papar Purnomo.

Proyek listrik 10.000 MW tahap kedua ini, diproyeksikan membutuhkan total dana sebesar 8 hingga 9 miliar dolar AS.

Di tempat yang sama, Yogo Pratomo mengakui bahwa kebutuhan dana untuk proyek listrik 10.000 MW tahap pertama, masih mengalami kekurangan sekitar Rp 47,9 triliun dari total dana yang dibutuhkan seluruhnya sekitar Rp 98,1 triliun.

Dari kebutuhan dana Rp 98,1 triliun, sebanyak 15 persen telah dipenuhi PLN atau sekitar Rp 14,7 triliun. Sedangkan 55 persen atau sekitar Rp 83,4 triliun berasal dari pinjaman antara lain bank di China. "Masih tersisa Rp 47,9 triliun dari dana yang sudah disiapkan sebesar Rp 50 triliun," kata Yogo.


 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau