Treking dari Candi ke Candi di Ambarawa

Kompas.com - 07/06/2008, 11:41 WIB

Gedong Songo adalah kompleks percandian yang terletak di kaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Dinamakan Gedong Songo karena candi (gedong) di tempat itu berjumlah sembilan (songo). Dari satu candi ke candi lain, Anda bisa menyusur jalan setapak menguji otot kaki dan panjangnya napas.

Secara administratif, percandian ini berada di wilayah Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Berada pada ketinggian 1.200-1.300 meter di atas permukaan laut, kompleks candi ini pada awalnya disebut sebagai "Gedong Pitoe". Sebabnya, pada waktu ditemukan, percandian ini hanya ada tujuh bangunan candi. Namun selanjutnya ditemukan dua bangunan candi lagi sehingga kemudian dinamai dengan percandian Gedong Songo. Kata gedong dalam bahasa Jawa berarti bangunan, sedangkan songo berarti sembilan. Dengan demikian arti Gedong Songo adalah, sembilan bangunan candi.

Meski nama yang diberikan adalah Gedong Songo, percandian ini hanya memiliki lima candi yang masih utuh. Sedangkan bangunan lain tinggal bagian pondasinya saja atau kaki bangunannya saja. Kelima candi tersebut telah dipugar oleh Dinas Purbakala. Candi Gedong I dan II dipugar pada tahun 1928 sampai tahun 1929 dan tahun 1930 sampai tahun 1931. Pemugaran candi, terutama candi Gedong III, IV, dan V dan penataan lingkungan secara menyeluruh dilakukan oleh pemerintah Indonesia pada 1972-1982.

Candi ini memuat fragmen-fragmen sejarah kebesaran budaya Hindu. Kesembilan candi tersebut berada di lereng-lereng bukit yang letaknya terpisah satu sama lain. Untuk mengunjungi semua candi Anda bisa menyewa kuda sambil menikmati keindahan alam dan kesegaran udara pegunungan. Cukup dengan biaya Rp 25.000 Anda dapat menunggang kuda menikmati candi dan pemandangan alam. Namun bila Anda ingin melakukan jalan sehat, Anda bisa jalan kaki sepanjang 4 kilometer.

Gajah dan Yoni

Meskipun masa pendirian Candi Gedong Songo ini belum diketahui secara pasti, berdasarkan bentuk seni bangunan, para ahli menafsirkan percandian ini didirikan hampir sezaman dengan percandian di Dieng. Dengan demikian percandian ini juga termasuk bangunan Hindu tertua di Propinsi Jawa Tengah. Kenyataan ini dapat dilihat pada arca atau relief yang menempati relung-relung candi seperti arca Ciwa Mahadewa, Ciwa Mahaguru, Ganeca, Durga Mahisasuramardhani, Nandiswara dan Mahakala serta Yoni yang ada pada bilik candi.

Percandian Gedong Songo merupakan kelompok candi yang dibuat pada kurun waktu antara abad VII - IX Masehi. Diperkirakan, candi-candi ini dibangun oleh Raja Sanjaya, raja Mataram kuno pada sekitar abad 8 Masehi atau sekitar tahun 927 M. Melihat langgam arsitektur dan pendirinya yang beragama Hindu, Candi Gedong Songo jelas merupakan candi yang dibangun untuk pemujaan. Candi ini kali pertama dilaporkan keberadaannya oleh Gubernur Jenderal Raffles pada 1740.

Keistimewaan pada percandian Gedong Songo antara lain terdapat pada arca gajah dalam posisi jongkok. Arca ini terletak pada candi Gedong III dan Yoni dalam bentuk persegi panjang yang terletak pada candi Gedong I.

Lukisan Alam

Menikmati keindahan sembilan candi dalam satu tempat, itulah kelebihan kompleks Candi Gedong Songo ini. Kompleks ini tak hanya menyiratkan suasana tempo doeloe, tapi juga keindahannya. Dikelilingi hamparan bunga dan hutan pinus, Anda bisa menikmati segarnya aroma getah pinus dan wangi bunga mawar. Selain itu, karena letaknya yang tinggi, dari tempat ini Anda bisa menyaksikan lukisan alam kota Ambarawa dan genangan air Rawapening dengan latar Gunung Sumbing dan Sindoro. Benar-benar menakjubkan.

Komplek candi ini berderet dari bawah ke atas yang dihubungkan dengan jalan setapak bersemen. Satu candi yang berada di puncak paling tinggi disebut Puncak Nirwana.

Kuburan Dasamuka

Gunung Ungaran, tempat Candi ini, menurut cerita rakyat memiliki keterkaitan dengan perebutan Dewi Sinta antara Hanoman dan Dasamuka. Menurut cerita pewayangan, Dasamuka menculik Dewi Sinta dari sisi Rama, suaminya. Terjadilah perang besar untuk merebutnya. Dasamuka dan bala tentara raksasanya melawan Rama yang dibantu pasukan kera pimpinan Hanoman. Namun, Dasamuka yang sakti tak bisa mati kendati dirajam berbagai senjata oleh Rama. Karena itu, Hanoman yang anak dewa itu kemudian mengangkat sebuah gunung untuk menimbun tubuh Dasamuka. Jadilah Dasamuka tertimbun hidup-hidup oleh gunung yang kemudian disebut sebagai Gunung Ungaran.

Kabarnya, setiap hari Dasamuka kerap merintih dengan suara menggelegak meski suara itu diyakini berasal dari sumber air panas yang terdapat di tempat itu. Sumber air panas yang mengandung belerang itu menjadi tempat mandi untuk menghilangkan beberapa penyakit kulit.

Obyek wisata sejarah ini letaknya tak begitu jauh dari obyek wisata Bandungan, hanya sekitar 5 km. Terletak di Desa Candi, Kecamatan Somowono Ambarawa, Kabupaten Semarang, Candi Gedong Songo juga bisa Anda kunjungi melalui kota Ambarawa yang berjarak sekitar 15 km, yaitu ke arah barat melewati obyek wisata Bandungan. Jika dari Ungaran jaraknya hanya 12 km melalui Karangjati. Lokasinya mudah dijangkau karena banyak angkutan umum yang siap mengantar Anda ke sana.

Kalau Anda adalah tipe orang yang tidak mudah puas melihat sesuatu hanya sekali saja, Anda bisa bermalam di area bagian bawah sebelum Candi Gedong I. Area itu biasanya digunakan anak-anak muda yang hendak berkemah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau