Turis Bule Suka Extreme Sport di Sumbar

Kompas.com - 10/06/2008, 08:02 WIB

PADANG, SELASA - Wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa, Amerika, dan Australia ternyata berminat pada wisata khusus di Sumatera Barat (Sumbar). Tercatat, lokasi yang paling sering dikunjungi para turis bule ini adalah wisata khusus bernuansa olahraga dan tantangan (extreme sport), seperti  surfing (selancar), arung jeram, paralayang, panjat tebing, dan ekowisata. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar James Helyward di Padang, Senin (9/6).
     
Menurut dia, potensi pengembangan wisata minat khusus di Sumbar sangat besar, didukung keberadaan obyek-obyek jenis wisata yang cukup banyak di daerah ini. Karena itu, tambahnya, pemerintah daerah dan pihak terkait di Sumbar terus mengembangkan obyek dan kegiatan wisata minat khusus tersebut untuk meningkatkan kontribusinya dalam meraih kunjungan wisatawan.
     
Ia menjelaskan, minat wisatawan mancanegara mengunjungi dan menikmati wisata minat khusus di Sumbar terus meningkat sedangkan obyek-obyek wisata ini di Sumbar telah dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
     
Untuk wisata surfing, kata James, Sumbar memiliki obyek di Kepulauan Mentawai yang telah dikenal di dunia internasional dan dikunjungi wisatawan mancanegara dalam jumlah besar, seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa. Di samping jumlah kunjungan tinggi, uang dibelanjakan wisatawan kelompok ini juga besar, tambahnya.
     
Sedangkan obyek untuk wisata arung jeram yang diminati wisatawan mancanegara dan nusantara juga ada di Sumbar, baik untuk tingkat pemula maupun tingkat profesional. Terdapat sedikitnya lima sungai beraliran deras di Sumbar yang berpotensi untuk wisata arung jeram tersebut.
     
Sungai-sungai itu adalah, Batang Kuantan di Kabupaten Sijunjung, Batang Liki di Kabupaten Solok, Batang Lundang di Kabupaten Pesisir Selatan, Batang Antokan di Kabupaten Agam dan Batang Sangir di Kabupaten Solok Selatan.
     
Selanjutnya wisata paralayang (paragliding), meski termasuk baru di Sumbar tapi memiliki potensi pengembangan cukup baik didukung obyek yang potensial. Tempat-tempat yang telah dikembangkan dan dikunjungi wisatawan mancanegara adalah Puncak Lawang, Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Puncak Langkisau, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Puncak Tanjung Alai, Banau Singkarak, Kabupaten Solok. Kegiatan paralayang tingkat internasional telah beberapa kali digelar di Sumbar dan peminatnya terus meningkat.
     
Wisata panjat tebing di Sumbar juga mulai diminati wisatawan Nusantara dan mancanegara. Sumbar memiliki alam yang kaya gunung dan lembah bertebing batu yang mengundang tantangan bagi para pencinta wisata tersebut. Obyek wisata ini yang telah diperkenalkan bagi wisatawan adalah di Lembah Harau, Kabupaten 50 Kota, dan di Kabupaten Pesisir Selatan.
     
Untuk kegiatan ekowisata, Sumbar juga memiliki alam dan budaya yang masih asli sebagai aset untuk wisatawan peminat jenis wisata ini. Pengembangan ekowisata menjadi perhatian di banyak negara karena dampak negatifnya kecil dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat di obyek-obyek yang dikunjungi wisatawan.
     
Ekowisata di Sumbar dapat dilaksanakan pada kawasan taman nasional, perkebunan, pertanian, dan perkampungan tradisional yang memiliki masyarakat dengan tradisi masih melekat dengan budaya lokalnya dan ditunjang keberadaan flora/fauna khas suatu daerah. Obyek ekowisata di Sumbar antara lain terdapat di Kabupaten Solok, Agam dan Tanah Datar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau