DEPRESI adalah masalah yang tidak bisa dianggap sepele karena dapat menimbulkan berbagai masalah mulai dari cara berpikir, tingkah laku, emosi maupun dampak fisik. Depresi biasanya diawali dengan stres yang bersifat ringan dan sementara, tetapi kemudian akan berkembang bila stres atau tekanan dihadapi timbul secara kontinyu dan tak terselesaikan.
Bila dibiarkan, gejala-gejala ringan ini tentu akan berbahaya dan berpotensi menjadi parah. Seseorang yang sering stres seharusnya mewaspadai gejala depresi sejak dini, dan bila perlu melakukan konsultasi kepada dokter atau psikiater.
Seperti diungkapkan Dr.dr Nurmiati Amir SpKJ, spesialis kejiwaan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI/RSCM), depresi memang harus diwaspadai bila sudah menunjukkan gejala-gejala psikis dan fisik.
Gejala psikis yang mungkin timbul seperti hilangnya minat beraktivitas, murung, sedih berkepanjangan dan hilang kepercayaan diri. Sedangkan gejala fisik dapat berupa susah tidur, berat badan yang turun drastis, mudah sakit, letih dan menurunnya efisiensi kerja.
Bila masih dalam tahap wajar, ada depresi yang dapat hilang dengan sendirinya seiring perjalanan waktu. Namun, ada pula depresi yang membutuhkan proses penyembuhan lama dengan obat-obatan.
"Pemberian obat-obat depresi bisa diberikan kepada penderita depresi ringan sekalipun karena masalahnya bisa bersifat pribadi, dan tak hanya didasarkan pada tingkatannya. Depresi memang bertingkat mulai dari ringan, sedang hingga berat, namun itu tak selalu dijadikan patokan. Bila seseorang mengalami depresi ringan tetapi kemampuan coping atau daya tahan psikologisnya tidak begitu baik, dokter bisa memberikan obat. Bila sudah tingkat sedang dan berat, dokter biasanya otomatis akan memberi obat," ungkap Dr.dr Nurmiati
Pada pemeriksaan awal, dokter atau psikiater biasanya akan mengecek kondisi fisik pasien seperti berat badan, alat vital dan jantung. Tindakan lainnya adalah pemeriksaan laboratorium untuk mengecek kondisi jantung, kadar alkohol dan obat serta fungsi tiroid. Berikutnya adalah pemeriksaan psikologis dalam bentuk kuisioner, investigasi perasaan, pikiran dan bentuk perilaku untuk mengetahui penyebab depresi sebelum mendapat pengobatan.
Tujuan memberikan obat-obatan atau farmakoterapi pada pasien depresi, lanjut Dr Nurmiati, adalah untuk memperbaiki keseimbangan zat kimia dalam otak atau neurotransmitter Obat yang biasa digunakan adalah anti-depresan yang bekerja di otak untuk mengubah mood pasien.
"Yang jelas, pemberian obat anti-depresan ini tidak akan menimbulkan ketergantungan bagi pasien dan dapat digunakan dalam jangka waktu lama," tandas Nurmiati.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang