Depresi, Kapan Perlu Obat-Obatan?

Kompas.com - 18/06/2008, 16:58 WIB

DEPRESI adalah masalah yang tidak bisa dianggap sepele karena dapat menimbulkan berbagai masalah mulai dari cara berpikir, tingkah laku, emosi maupun dampak fisik. Depresi biasanya diawali dengan stres yang bersifat ringan dan sementara, tetapi kemudian akan berkembang bila stres atau tekanan dihadapi timbul secara kontinyu dan tak terselesaikan.

Bila dibiarkan, gejala-gejala ringan ini tentu akan berbahaya dan berpotensi menjadi parah. Seseorang yang sering stres seharusnya mewaspadai gejala depresi sejak dini, dan bila perlu melakukan konsultasi kepada dokter atau psikiater.

Seperti diungkapkan Dr.dr Nurmiati Amir SpKJ, spesialis kejiwaan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI/RSCM), depresi memang harus diwaspadai bila sudah menunjukkan gejala-gejala psikis dan fisik. 

Gejala psikis yang mungkin timbul seperti hilangnya minat beraktivitas, murung, sedih berkepanjangan dan hilang kepercayaan diri. Sedangkan gejala fisik dapat berupa susah tidur, berat badan yang turun drastis, mudah sakit, letih dan menurunnya efisiensi kerja.

Bila masih dalam tahap wajar, ada depresi yang dapat hilang dengan sendirinya seiring perjalanan waktu. Namun, ada pula depresi yang membutuhkan proses penyembuhan lama dengan obat-obatan. 

"Pemberian obat-obat depresi bisa diberikan kepada penderita depresi ringan sekalipun karena masalahnya bisa bersifat pribadi, dan tak hanya didasarkan pada tingkatannya. Depresi memang bertingkat mulai dari ringan, sedang hingga berat, namun itu tak selalu dijadikan patokan. Bila seseorang mengalami depresi ringan tetapi kemampuan coping  atau daya tahan psikologisnya tidak begitu baik, dokter bisa memberikan obat.  Bila sudah tingkat sedang dan berat, dokter biasanya otomatis akan memberi obat," ungkap  Dr.dr Nurmiati               

Pada pemeriksaan awal, dokter atau psikiater biasanya akan mengecek kondisi fisik pasien seperti berat badan, alat vital dan jantung.  Tindakan lainnya adalah pemeriksaan laboratorium untuk mengecek kondisi jantung, kadar alkohol dan obat serta fungsi tiroid.  Berikutnya adalah pemeriksaan psikologis dalam bentuk kuisioner, investigasi perasaan, pikiran dan bentuk perilaku untuk mengetahui penyebab depresi sebelum mendapat pengobatan.   

Tujuan memberikan obat-obatan atau farmakoterapi pada pasien depresi,  lanjut Dr Nurmiati, adalah untuk memperbaiki keseimbangan zat kimia dalam otak atau neurotransmitter  Obat yang  biasa digunakan adalah anti-depresan yang bekerja di otak untuk mengubah mood pasien.

"Yang jelas, pemberian obat anti-depresan ini tidak akan menimbulkan ketergantungan bagi pasien dan dapat digunakan dalam jangka waktu lama," tandas Nurmiati.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau