Terima Kasih, Maria Kristin!

Kompas.com - 23/06/2008, 00:10 WIB

JAKARTA, MINGGU -  Melihat permainan tunggal puteri, Maria Kristin Yulianti, di Indonesia Open 2008 kita seperti melihat kembali permainan pemain legendaris Susy Susanti di masa jayanya.

Susy Susanti merupakan juara tunggal puteri Indonesia akhir 1980-1990-an. Ia dianggap sebagai pemain puteri terbesar karena menyumbangkan medali emas Olimpiade Barcelona 1992 serta membawa Indonesia menjadi juara Piala Uber 1994 dan 1996. Susy mengundurkan diri setelah  menikah dan meraih hampir semua gelar juara terhormat.

Di Djarum Indonesia Open Super Series 2008 di Istora Gelora Bung Karno, pekan ini, para penggemar bulu tangkis seperti melihat Susy kembali. Tunggal utama  Indonesia, Maria Kristin Yulianti, menampilkan gaya permainan Susy  dan terutama semangat pantang menyerah seperti yang diperlihatkan seniornya tersebut. Kristin lolos ke final sebelum tumbang di tangan unggulan pertama dari China, Zhu Lin.

Di lapangan, sejak awal Kristin yang tidak diunggulkan tampil seperti tanpa beban. Ia mengembalikan semua bola dari lawan-lawannya yang akhirnya membuat mereka terjebak dan menyerah. Tidak tanggung-tanggung, hampir semua lawan yang dihadapinya adalah lulusan pemusatan latihan bulu tangkis  di China.

Setelah menyingkirkan rekan setimnya, Pia Zebadiah Bernadet, di babak pertama, Kristin  mengalahkan Yao Jie, pemain Belanda asal China.  Di perempat final ia mengandaskan Zhou Mi dari Hongkong, sementara kejutan besar dilakukannya di semifinal saat mengalahkan unggulan ke-2 dari China, Zhang Ning.

Di final saat menghadapi  Zhu Lin, Kristin bukannya tidak memiliki peluang. Ia mampu menahan juara Indonesia Open 2006 tersebut dalam rubber game sebelum menyerah 18-21, 21-17, 14-21.  Permainan begitu ketat dan panjang hingga berlangsung 1 jam 18 menit dan menguras tenaga kedua pemain. Saking lelahnya, Zhu Lin bahkan mendapat kartu kuning karena dianggap mengulur-ulur waktu.

Para petaklukan Kristin tersebut agaknya frustrasi dengan gaya yang diperlihatkan pemain Indonesia ini. Bermain tanpa ekspresi dan seperti tak ada gairah, Kristin mengembalikan semua pukulan lawannya dengan defense yang sangat ketat, sementara ia berusaha menguras tenaga lawannya dengan bola-bola lob, drop shot, dan sesekali smash. Lawan yang ingin buru-buru menyelesaikan pertandingan kerap melakukan kesalahan sendiri.

Penampilan Kristin mendapat dukungan penuh dari penonton Istora. Sejak ia mengalahkan pemain kesayangan publik, Pia Zebadiah, di babak pertama, Kristin mendapat dukungan penuh saat menghadapi lawan-lawannya. Di babak final, Minggu (22/6),  para penonton rela menunggu partai final antara Kristrin dan Zhu Lin yang merupakan partai keempat.

Menghadapi pemain China seperti Zhu Lin, Kristin sengaja menampilkan strategi bertahan. "Para pemain China itu tipenya hampir sama. Pukulan mereka komplet. Yang harus kita lakukan adalah menahan dan mengembalikan semua pukulan mereka," kata Kristin.

Menurut Maria Kristin, taktik ini nyata berhasil.  Ia tidak peduli dituduh mengembangkan permainan bulu tangkis negatif dan tidak menarik untuk disaksikan.  Bagi Kristin, ini satu-satunya cara untuk menghadapi para pemain China.  "Setiap menghadapi pemain China, peluang kita sebenarnya berat. Pukulan mereka komplet, sementara posturnya pun sangat menunjang," katanya.

Dilahirkan di Tuban, 2 Juni 1985, Kristin memperkuat Tim Piala Uber 2006 dan 2008. Tahun lalu, Maria Kristin membantu tim puteri Indonesia meraih medali emas di SEA Games di Thailand. Ia juga meraih  medali emas nomor tunggal dengan mengalahkan rekan senegaranya, Adriyanti Firdasari 21-14 21-4.

Maria Kristin adalah seseorang yang easy going dan mudah bercanda. Setiap kali ditanyakan peluang menghadapi lawannya, ia hanya tertawa dan memberi jawaban mengambang. Ya, beratlah atau peluang tipislah karena terakhir kalah.  Namun biasanya ia mengakhiri dengan kalimat, "Yang penting bola jangan mati saja karena pemain China juga bukan tidak mungkin dikalahkan."

Yang pasti, di Djarum Indonesia Open Super Series 2008, Maria Kristin, Liliyana Natsir, dan Vita Marissa  memperkuat sesuatu yang mulai tumbuh sejak Piala Uber 2008. Kepercayaan masyarakat bulu tangkis Indonesia terhadap kemampuan pemain puteri telah kembali.  Kepercayaan yang pernah hilang sejak surutnya Susy Susanti dan kawan-kawan usai Piala Uber 1998.  (Tjahjo Sasongko) 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau