Diperkirakan, pengiriman lebih besar akan dilakukan pekan depan dan kondisi ini diharapkan bisa memberikan kelegaan pada penduduk Gaza yang sudah setahun dikurung Israel.
Gencatan senjata itu mulai diberlakukan Kamis (18/6) sebagai bukti bahwa kedua pihak punya kepentingan terhadap kesepakatan tak resmi itu. Hamas ingin mendapat citra positif karena bisa mengakhiri blokade Israel dan legitimasi untuk melakukan kesepakatan langsung dengan Israel. Sedangkan Israel ingin menghentikan serangan-serangan roket yang mengganggu hidup ribuan warganya yang tinggal di sekitar perbatasan meski para pengkritik menilai langkah itu memberi kesempatan Hamas untuk kembali mempersenjatai diri.
Minggu kemarin, barang-barang kebutuhan yang diangkut 90 truk Israel dipindahkan ke kendaraan Palestina di persimpangan Gaza. Ini jauh lebih banyak dibandingkan sebelum gencatan yang hanya 60-70 truk, kata juru bicara militer Israel, Gil Karie.
Ihab Ghussen, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Gaza yang dikuasai Hamas, mengatakan, peningkatan itu hasil gencatan dengan mediasi Mesir. Di antara barang-barang itu ada susu, buah dan sayur, popok, tisu toilet, dan sepatu. "Barang-barang yang sebelumnya dilarang masuk Gaza, seperti semen, bisa masuk dalam 10 hari setelah gencatan," kata Ghussen.
Saat pemindahan itu, sejumlah milisi Hamas berjaga di perbatasan sisi Gaza untuk mengawasi kegiatan itu. Ada juga polisi yang setia pada Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan pasukan internasional sebagai penengah mereka dengan tentara Israel.
Meski begitu, volume bahan bakar yang dikirim ke Gaza tetap kecil, seperti saat blokade masih berlangsung. Ini dianggap sebagai hukuman atas serangan roket Hamas. Akibatnya, transportasi di wilayah itu nyaris lumpuh. Juru bicara Pemerintah Israel, Mark Regev, mengatakan, volume BBM akan ditingkatkan pada tahap selanjutnya. Namun ia tidak menyebutkan berapa peningkatan dan kapan waktunya.