JAKARTA, SENIN - Kematian Maftuh Fauzi yang menjadi korban dalam insiden penyerbuan polisi saat menertibkan aksi menolak kenaikan harga BBM oleh mahasiswa Universitas Nasional (Unas), Sabtu (24/5), menimbulkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia.
Pada hari dimana mahasiswa Unas tersebut mengembuskan nafasnya yang terakhir di RSPP, sekitar 100 mahasiswa dan simpatisan melakukan aksi di depan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Aksi yang sama digelar sekitar 500 pemuda dari berbagai organisasi dan perguruan tinggi di Tugu Proklamasi, Jakarta, Senin (23/6).
Sebuah tiruan peti mati ditempatkan massa di salah satu gubuk yang dibuat di tengah lapangan Tugu Proklamasi. Sebelum menyatakan sikapnya, para pemuda mengheningkan cipta sejenak dan menyanyikan lagu Gugur Bunga mengenang Maftuh yang oleh mereka disahkan sebagai seorang martir, seorang pahlawan rakyat.
"Kami dari seluruh mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Temu Aktivis Lintas Generasi (Tali Generasi) dengan sadar dan penuh hormat mengangkat almarhum Maftuh Fauzi menjadi Pahlawan Rakyat," ujar beberapa perwakilan dari masing-masing organisasi dan kampus tersebut.
Dalam pernyataan sikapnya, para pemuda menegaskan bahwa Maftuh adalah korban penganiayan yang dilakukan aparat kepolisian. Penganiayaan tersebut membuat almarhum yang oleh kawan-kawannya akrab dipanggil Sader tersebut mengalami luka serius dan sempat koma sebelum dirawat di Rumah Sakit UKI.
Ketua Panitia Nasional Temu Aktivis Lintas Generasi, Jefri Silalahi mengatakan aksi para pemuda tersebut akan diisi dengan diskusi dan mimbar bebas. Setiap perwakilan organisasi dari setiap daerah diberi kesempatan untuk melakukan orasi.
Pada dasarnya, para peserta mempersoalkan kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla menaikkan harga BBM. Kebijakan yang dianggap tidak populis ini telah membuat rakyat kecil menderita. Para peserta juga menyerukan pemerintah untuk menasionalisasikan aset tambang dan migas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang