BALIKPAPAN - Hotel-hotel berbintang di Balikpapan menjerit dengan penghitungan biaya penyediaan listrik yang bakal membengkak saat pelaksanaan ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang. Pasalnya, PLN telah mengirimkan surat edaran kepada hotel-hotel pengguna listrik di atas 200 KVA, untuk menggunakan genset sendiri, mulai pukul 11.00 hingga 17.00. Ini masih ditambah dengan pembatasan pemakaian listrik PLN bagi 12 hotel berbintang di Balikpapan.
Protes langsung diutarakan para pimpinan hotel dalam pertemuan antara Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan PLN Balikpapan. "Kebutuhan listrik kami mencapai ratusan bahkan ribuan KVA per hari. Kalau kami harus membiayai sendiri kebutuhan listrik hotel saat pelaksanaan PON nanti, sedikitnya kami membutuhkan dana Rp 800 juta. Sedangkan biaya listrik tersebut tidak bisa dibebankan pada tamu begitu saja," ujar GM Hotel Le Grandeur Peter Stolk.
Peter berharap tidak ada pemadaman pada sektor usaha perhotelan di Balikpapan. Apalagi, beberapa hotel digunakan untuk akomondasi para atlet PON. Sebab, kemampuan genset hotel pun tidak bisa memenuhi kebutuhan listrik hotel secara keseluruhan. "Jangan sampai pelayanan dan kepuasan para atlet maupun tamu PON terganggu karena keterbatasan listrik," ujarnya.
Pemilik Hotel Mirama, Yulidar Gani, mengaku tagihan pemakaian listrik bulan lalu membengkak hingga 100 persen. "Sebelumnya saya masih membayar tagihan listrik sebesar Rp 40 juta. Tapi bulan lalu, tagihan yang dibebankan pada hotel saya menjadi Rp 80 juta. Saya tidak mengerti mengapa lonjakannya bisa 100 persen begitu," ungkap Yulidar.
Kebutuhan listrik bagi kalangan usaha perhotelan sangatlah pokok. Sedangkan membiayai penyediaan listrik dengan genset pribadi cukup menguras kantong, mengingat harga solar industri mencapai Rp 10.400 per liter.
Sementara itu, pemilik Hotel Gran Tiga Mustika, Lilik, mengusulkan jika harus terpaksa memakai genset selama perhelatan PON, ia meminta ada keringanan harga solar. "Kalau bisa harga solar yang kami beli yang bersubsidi selama PON," kata Lilik. Lilik berharap, usulannya bisa disampaikan oleh Ketua PHRI ke Pertamina mengenai harga solar selama PON.
Meningkat
Frekuensi pemadaman listrik minggu-minggu belakangan ini makin meningkat. Kawasan Kampung Timur, Balikpapan, misalnya, terkena pemadaman siang hari selama dua hari berturut- turut pada Sabtu-Minggu (21-22 Juni) lalu. Kemudian dilanjutkan sore hingga malam hari di hari Senin (23/6). Begitu juga di kawasan Perumnas Batu Ampar KM 3,5 dan Gunung Samarinda.
Kepala PLN Wilayah Cabang Balikpapan Rahimuddin membenarkan terjadinya pemadaman yang semakin 'giat' itu. "Kita sekarang sedang menyiapkan mesin-mesin untuk PON mendatang. Kalau tadinya kami paksakan, sekarang ini tidak lagi. Namun, beberapa mesin justru sedang dalam perawatan, makanya frekuensi pemadaman agak bertambah," ungkap Rahimuddin.
Penyebab lainnya karena faktor kekurangan daya akibat musibah yang terjadi pada PLTD Batakan. "Mudah-mudahan menjelang PON semua mesin kita sudah siap dan frekuensi pemadaman bisa terkurangi. Kita bertekad saat PON pemadaman bisa berkurang," kata Rahimuddin.
Meski demikian, Rahimuddin mengatakan untuk menambah pasokan listrik, PLN telah menambah enam unit mesin genset berkapasitas 3 MW di PLTD Batakan. Masih ada 5 MW akan menyusul untuk PLTD Batakan dan Samarinda. "Mesin 3 MW sudah kami operasikan. Tapi namanya kondisi kelistrikan kita sedang minus, ya...tetap kurang," ujar Rahimuddin.
Seperti diketahui, defisit listrik Sistem Mahakam (Balikpapan, Samarinda, Tenggarong,) bertambah besar pasca terbakarnya PLTD Batakan. Yakni mencapai 33,8 MW. Bila sebelumnya, PLN memiliki daya mampu sebesar 174 MW untuk ketiga kota tersebut, kini hanya memiliki 166,2 MW. Sementara beban puncak di tiga kota tersebut mencapai 200 MW.
Mengatasi hal tersebut, PLN telah membeli 19 unit mesin genset yang akan ditempatkan di empat Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan satu Pembangklit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU). Kapasitasnya mencapai 25,65 MW. Sehingga total firm capacity-nya bisa mencapai 191,85 MW.
Genset Laris
Frekuensi pemadaman yang meningkat membawa keberuntungan tersendiri bagi penjual genset. Di ajang The 4th Balikpapan Expo 2008 lalu, PT Cahaya Waja Lugas yang membawa genset produk Multi Equipment mengaku kebanjiran pembeli.
Dalam dua hari sejak pameran dibuka, gensetnya sudah laku lima unit. Bahkan di hari ketiga, selain tujuh unit barang contoh yang dibawanya ludes terjual, perusahaan distributor berbagai alat industri inipun kebanjiran pesanan genset.
"Mungkin karena Balikpapan suka mati lampu, jadi genset laku keras. Ini saja saya sedang mengurus pengiriman unit lagi. Sebab saat ini kami belum memiliki cabang di Balikpapan," ungkap Indri, Marketing PT Cahaya Waja Lugas.
Melihat pasar genset yang menggeliat, Indri mengaku perusahaannya berencana membuka cabang di Balikpapan. "Seperti dalam sebulan atau dua bulan ini. Kami sedang melakukan peninjauan lokasi pasar. Kemungkinan akan mengambil tempat di kawasan Pasar Kebun Sayur," ujar Indri.
Tak hanya pembelian, penyewaan genset pun saat ini sedang ramai-ramainya. Satu di antaranya adalah penyewaan genset milik Hendro. Dengan biaya sewa Rp 3,5 juta untuk 10 KVA hingga Rp 23 juta untuk 250 KVA per minggu, Hendro bisa mengantongi uang puluhan juta rupiah dalam sepekan.
"Kalau soal ramai, sekarang memang lagi ramai-ramainya. Ada beberapa genset saya yang dipakai di arena PON, ada pula yang dipakai untuk acara seperti konser," ungkap Hendro.
Meski demikian, Hendro mengaku tidak melayani penyewaan genset untuk keperluan rumah tangga atau kegiatan kecil. "Pasar kami lebih ke industri atau konser besar. Kami tidak melayani yang kecil-kecil," kata Hendro. (sar)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang