YOGYKARTA, KAMIS - Perhimpunan Solidaritas Buruh (PSB) Yogyakarta mengakui bahwa di tengah hiruk-pikuk pengajuan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang sudah mulai berlangsung, nama Sultan Hamengkubuwono (HB) X berkibar karena sering disebut-sebut sebagai salah satu calon pemimpin alternatif.
Namun menurut Sekretaris Eksekutif PSB Yogyakarta, Juli Eko Nugroho, kelompok buruh memandang bahwa Sultan HB X saat ini justru tengah menjadi permainan para elit politik untuk mendulang suara pada Pemilihan Presiden Pemilu tahun 2009 mendatang.
"Ia sepertinya sangat dieksploitasi dan menurut kami, Sultan sebaiknya menjadi guru bangsa atau madeg pandhita sama seperti ayahandanya (Sultan HB IX)," kata Juli di Yogyakarta, Kamis (26/6).
Namun ketika disinggung, apakah Sultan sebaiknya menjadi capres, cawapres atau tetap sebagai gubernur, PSB tidak memilih ketiganya. Mereka beralasan, sebagai gubernur Sultan HB X hanya memberikan upah yang minim kepada buruh, yaitu Rp 586 ribu per bulan, yang jauh lebih kecil dari daerah lain yang rata-rata sudah mencapai Rp 800 ribu lebih.
"Jika dipikir, apa istimewanya jadi buruh di Yogyakarta dengan upah sekecil itu," lanjut Juli.
Beberapa hal lain yang juga perlu dikritisi ialah penanganan bencana gempa bumi yang terjadi pada 27 Mei 2006. Kalangan ini menilai pemerintah lambat sementara pemerintah daerah tidak banyak berperan.
"Pemerintah tidak banyak berperan, 60 persen berasal dari rakyat sendiri dan juga LSM-LSM asing," lanjutnya. (ANT)