Awas, Sultan Hanya Dipermainkan Elit

Kompas.com - 26/06/2008, 18:19 WIB

YOGYKARTA, KAMIS - Perhimpunan Solidaritas Buruh (PSB) Yogyakarta mengakui bahwa di tengah hiruk-pikuk pengajuan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang sudah mulai berlangsung, nama Sultan Hamengkubuwono (HB) X berkibar karena sering disebut-sebut sebagai salah satu calon pemimpin alternatif.

Namun menurut Sekretaris Eksekutif PSB Yogyakarta, Juli Eko Nugroho, kelompok buruh memandang bahwa Sultan HB X saat ini justru tengah menjadi permainan para elit politik untuk mendulang suara pada Pemilihan Presiden Pemilu tahun 2009 mendatang.
   
"Ia sepertinya sangat dieksploitasi dan menurut kami, Sultan sebaiknya menjadi guru bangsa atau madeg pandhita sama seperti ayahandanya (Sultan HB IX)," kata Juli di Yogyakarta, Kamis (26/6).    

Namun ketika disinggung, apakah Sultan sebaiknya menjadi capres, cawapres atau tetap sebagai gubernur, PSB tidak memilih ketiganya. Mereka beralasan, sebagai gubernur Sultan HB X hanya memberikan upah yang minim kepada buruh, yaitu Rp 586 ribu per bulan, yang  jauh lebih kecil dari daerah lain yang rata-rata sudah mencapai Rp 800 ribu lebih.
   
"Jika dipikir, apa istimewanya jadi buruh di Yogyakarta dengan upah sekecil itu," lanjut Juli.
   
Beberapa hal lain yang juga perlu dikritisi ialah penanganan bencana gempa bumi yang terjadi pada 27 Mei 2006. Kalangan ini menilai pemerintah lambat sementara pemerintah daerah tidak banyak berperan.
   
"Pemerintah tidak banyak berperan, 60 persen berasal dari rakyat sendiri dan juga LSM-LSM asing," lanjutnya. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau