Harga Mati, DKI Jakarta Juara Umum PON XVII

Kompas.com - 02/07/2008, 10:00 WIB

JAKARTA, SELASA - Bagi Provinsi DKI Jakarta, Pekan Olahraga Nasional atau PON adalah ajang yang sangat penting untuk membuktikan supremasinya di olahraga nasional. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XVII di Kalimantan Timur, 5-18 Juli, DKI Jakarta memasang target menjadi juara umum.

”Tidak ada kata kalah bagi atlet DKI Jakarta. Juara umum Pekan Olahraga Nasional XVII adalah sebuah harga mati,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dalam upacara peresmian kontingen PON XVII DKI Jakarta di halaman Balaikota DKI, Selasa (1/7).

Total anggota kontingen PON XVII DKI Jakarta berjumlah 1.123 orang, terdiri atas 947 atlet dan pelatih serta 176 ofisial. Namun, upacara kemarin tidak diikuti seluruh anggota kontingen karena sebagian dari mereka sudah lebih dulu berangkat ke Kalimantan Timur untuk mengikuti pertandingan yang digelar sebelum upacara pembukaan dan untuk kepentingan uji coba alat dan tempat laga.

Sejumlah anggota kontingen itu antara lain dari cabang layar, selancar angin, sepak bola, basket, catur, dan berkuda. Pada PON XVI tahun 2004 di Palembang, DKI menjadi juara umum dengan meraih 144 medali emas, 110 perak, dan 113 perunggu. Namun, provinsi yang dikenal sebagai gudangnya atlet nasional ini pernah mengalami kenyataan pahit.

Pada PON XV tahun 2000 di Surabaya, Jawa Timur, kontingen DKI Jakarta harus puas berada di peringkat kedua dengan 116 emas, 85 perak, dan 96 perunggu.

Atlet Ibu Kota waktu itu kalah bersaing dengan provinsi tuan rumah yang berjaya dengan perolehan 132 emas, 107 perak, dan 115 perunggu. Keberhasilan Jawa Timur mencoreng sejarah gemilang kontingen DKI Jakarta, yang sejak penyelenggaraan PON VII tahun 1969 di Surabaya hingga PON XIV di Jakarta tahun 1996 selalu menjadi juara umum.

Pada PON XVII ini target perolehan emas kontingen Jakarta berkisar 140 hingga 160 buah dari total 749 medali emas yang diperebutkan. Kontingen DKI akan bertanding di 42 dari total 43 cabang yang dipertandingkan. Satu-satunya cabang yang tidak diikuti DKI karena tidak lolos kualifikasi adalah cabang drum band. Selain Jawa Timur dan Jawa Barat, saingan utama Jakarta adalah tuan rumah, Kalimantan Timur.

Fauzi Bowo menyatakan, atas nama masyarakat Jakarta, dirinya berharap seluruh anggota kontingen dapat berjuang maksimal, bertanggung jawab, dan disiplin. Terkait dengan adanya laporan perihal kekurangnyamanan tempat pertandingan dan penginapan kontingen di Kalimantan Timur, Fauzi Bowo meminta kontingen DKI tidak berkecil hati. Bahkan, dia berjanji siap mengunjungi dan melihat sendiri kondisi para atletnya.

”Saya berjanji akan melihat sendiri. Bahkan, saya tidak akan menginap di hotel, tetapi di tempat penginapan atlet,” kata Fauzi Bowo, disambut tepuk tangan seluruh peserta upacara.

Kepada pers seusai upacara, Fauzi Bowo menyatakan, pihaknya menjanjikan bonus kepada semua peraih medali. Namun, ia menolak menyebutkan wujud bonus tersebut. ”Yang jelas, bonus itu akan lebih besar daripada nilai bonus pada PON sebelumnya karena harga-harga barang kan sekarang sudah lebih tinggi,” katanya.

Cabang andalan

Hidayat Humaid, Ketua Bidang Teknik Kontingen DKI, mengungkapkan, DKI berpeluang untuk mendulang emas dari semua cabang yang dipertandingkan.

Namun, terdapat sejumlah cabang yang menjadi andalan sebagai tambang emas. Cabang-cabang itu antara lain terbang layang, karate, pencak silat, wushu, menembak, dan senam.

”Di terbang layang kami optimis mampu mendulang emas lebih dari 15 keping, sedangkan menembak tujuh sampai delapan dan di atletik lima sampai tujuh keping,” kata Hidayat.

Menurut Hidayat, selain berlatih secara simultan di pusat pelatihan daerah sebelumnya, beberapa cabang secara rutin beruji coba di luar negeri, di antaranya senam di Malaysia, wushu di China, judo di Korea Selatan, dan anggar di China. Kondisi seperti itu telah menambah rasa percaya diri para atlet. (BEN/ECA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau