Jarak Pagar, Siap Menuju Kemandirian

Kompas.com - 04/07/2008, 09:27 WIB

Oleh Gesit A/Ahmad Arif

API menyala dari dua tungku tanah liat, mengusir dingin di Kebun Induk Jarak Pagar Pakuwon, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri, Departemen Pertanian di Sukabumi, Jawa Barat.

Sumber api itu diolah dari hasil tanaman jarak pagar yang menghampar di lereng bukit, di depan kantor balai.

Dibyo Pranowo, Kepala Kebun Induk Jarak Pagar (KIJP) Balittri Puslitbangbun Deptan, tersenyum lebar saat menerangkan manfaat jarak pagar (Jatropha curcas). "Kami tak pernah kesulitan energi di sini karena ada jarak pagar," ujarnya.

Bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), Balittri menemukan mesin penghasil biogas bungkil jarak pagar, dua bulan lalu. Sebagai starter, kotoran sapi bercampur air dimasukkan ke tabung reaksi.

"Dari sanalah kami memasak untuk 40-an pegawai," kata Dibyo. Di tengah krisis energi akibat lonjakan harga minyak bumi, pengembangan jarak menjadi masuk akal. Selain mudah ditanam dan diolah, semua hasil tanam juga bisa dipakai.

Sisa proses biogas yang berupa limbah padat dan cair menjadi pupuk organik. Limbah itu juga digunakan untuk memupuk hamparan kebun jarak di KIJP seluas 50-an hektar. Balittri juga mengembangkan kompor sumbu, kompor pasta, tungku bungkil, dan tungku biji. Alat-alat sederhana itu menjawab kebutuhan rumah tangga.

Kemauan politik

Manfaat jarak pagar telah dikenal masyarakat tradisional Indonesia beratus tahun silam. Masyarakat Sasak di Lombok menggunakan untuk penerangan. Masa penjajahan Jepang, minyak jarak menjadi sumber penerangan masyarakat dan pelumas meriam. Kini, potensi besar jarak pagar diarahkan sebagai sumber energi terbarukan.

Ekspedisi Minyak Jarak Murni oleh ITB dan National Geographic Indonesia, Juli 2007, sebagai bahan bakar kendaraan telah membuka peluang pengembangan selanjutnya. Minyak jarak sebagai campuran solar sudah dikembangkan.

Proyek percontohan pabrik pun sudah ada. Namun, yang paling dibutuhkan justru tidak muncul: kemauan politik dan keberpihakan pemerintah!

Catatan Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi (SBRC) IPB menyebutkan, dari target lahan jarak 1,5 juta hektar tahun 2010, hingga 2008 baru 120.000 hektar (8 persen) terealisasi.

"Pemerintah belum menentukan lahan komersialnya di mana. Padahal banyak investor yang berminat," kata Direktur SBRC Erliza Hambali. SBRC menyelenggarakan Konferensi Internasional Jatropha di Bogor, 24-26 Juni 2008, dihadiri peserta dari Amerika, Kanada, Korea, Jepang, China, Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Penantian akan pengembangan minyak jarak pagar di Indonesia justru dijawab dengan kehebohan pengembangan bahan bakar air (blue energy). Penelitian "rahasia" yang diharapkan menjadi terobosan saat harga BBM melejit, ternyata nol besar. Hal itu mencerminkan bahwa para pengambil kebijakan di negeri ini maunya serba instan.

Jangan merusak hutan

Jangankan produksi massal bahan bakar minyak jarak, investor pun saat ini kesulitan memperoleh lahan kritis untuk kebun jarak pagar. Padahal, minat swasta terhitung besar. Satu perusahaan swasta telah membuka lahan di Nusa Tenggara.

Sinar Mas Energy Alternative ancang-ancang menanami konsesi hutan produksinya yang tak layak bagi kelapa sawit dengan jarak pagar. Bersama Puslitbangbun Deptan, mereka meneliti varietas unggul jarak pagar-produksi minimal 9 ton per hektar.

Produsen semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pun menyatakan siap membeli buah jarak pagar berapa pun banyaknya. Buah jarak pagar plus biomassa, seperti sekam padi, dijadikan bahan bakar menggantikan batu bara yang polutif.

Dijumpai di Sukabumi, akhir Juni lalu, Presiden BetterEarth Green Energy, Jack Lee, menyatakan siap menanam modal 40 juta dollar AS untuk perkebunan skala besar. Dia yakin, Indonesia merupakan lokasi paling ideal di seluruh Asia.

"Kami sudah investasi di Afrika dan relasi kami siap menampung berapa pun produksi jarak pagar," kata Lee. Dia berjanji, pihaknya hanya akan menanam jarak di lahan marjinal dan tidak membuka hutan alam. Baginya, masa depan jarak pagar sangat kompetitif, terutama karena tidak berkompetisi dengan bahan makanan. "Kami tak mau mengulang kesalahan kelapa sawit yang berkonflik dengan hutan dan masyarakat lokal," ujarnya.

Di tengah prospek investasi skala besar jarak pagar ini, Dibyo mengingatkan agar pengembangan jarak pagar tidak mengulang kesalahan kelapa sawit -- bertabrakan dengan konservasi hutan dan berkonflik dengan masyarakat lokal. "Idealnya, jarak pagar ini untuk skala rumah tangga guna menyokong kemandirian energi, terutama untuk pulau-pulau kecil dan daerah terpencil," ucap Dibyo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau