Laporan wartawan Kompas Caesar Alexey
HATI berdebar ketika berdiri di tepi tebing Mount Faber saat akan menaiki Cable Car menuju Sentosa Island alias Pulau Sentosa. Dari bukit setinggi 106 meter itu terhampar pemandangan ke Sentosa Island di sebelah selatan dan selat yang menjadi pemisah dengan daratan Singapura.
Apakah aman menaiki kereta gantung ini? Bagimana jika kabelnya putus dan jatuh ke laut?” kata seorang kawan yang takut dengan ketinggian.
Namun, karena tiket cable car seharga 9,9 dollar Singapura sudah dibeli, kami tetap memaksanya masuk ke dalam kereta gantung itu. Bentuknya hampir sama seperti kereta gantung di Taman Impian Jaya Ancol yang diberi nama Gondola.
Di dalam ”mobil” itu rasanya agak bergoyang karena tiupan angin. Namun, pemandangan laut, pelabuhan, dan Sentosa Island yang terlihat jelas membuat kami melupakan goyangan itu.
Kereta gantung itu mendarat di Imbiah Lookout. Dari tempat ini kami langsung naik ke sky tower setinggi 360 meter dengan membayar tiket seharga 10 dollar Singapura atau sekitar Rp 67.000 per orang.
Di menara langit itu para pengunjung dapat menikmati pemandangan di Sentosa Island secara keseluruhan karena lantainya berputar perlahan sampai 360 derajat.
Di dekat sky tower terdapat juga sebuah bangunan raksasa menyerupai kepala singa atau lebih dikenal dengan Patung Merlion. Patung itu merupakan tiruan yang diperbesar dari patung Merlion di muara Singapore River.
Meskipun dapat dimasuki hingga ke puncak, banyak turis lebih suka berfoto di depan Merlion. Lokasi itu banyak dikunjungi oleh turis Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Lily, Angel, dan Ida, wisatawan dari Jakarta, juga turut berfoto di patung setinggi 8,6 meter itu. Mereka datang ke Sentosa Island untuk liburan sekolah.
”Pulau ini merupakan tempat mengisi liburan terbaik di Singapura. Banyak lokasi yang dapat dikunjungi dalam satu hari sampai puas. Jam bukanya sampai malam lagi,” kata Lily, yang baru naik kelas III SMA.
Di Sentosa Island terdapat 11 obyek wisata, selain kawasan resor, yang dapat dikunjungi dengan menggunakan bus intrapulau. Bus berpendingin udara itu gratis, tetapi pengunjung dipungut bayaran saat masuk di setiap wahana.
Sekitar 300 meter dari patung Merlion terdapat pantai yang biasa digunakan untuk pertunjukan laser ”Song of The Sea”. Pertunjukan itu merupakan atraksi unggulan di Sentosa Island yang diselenggarakan dua kali sehari dan dapat menyedot 2.000 penonton tiap pergelaran.
Di ujung barat Sentosa Island terdapat Fort Siloso, bekas benteng Jepang saat Perang Dunia II. Isi dalam benteng itu sudah dirombak menjadi museum sejarah Singapura yang dihiasi gambar-gambar, patung lilin, dan film dokumenter.
Jika bosan dengan cerita masa lalu, para pengunjung dapat menikmati Underwater World yang berisi berbagai ikan dan binatang laut. Terdapat juga ikan berwarna transparan dan isi perutnya yang merah.
Pertunjukan binatang laut juga dapat disaksikan di Dolphin Lagoon yang terletak di timur pulau. Di sini turis dapat bermain dengan lumba-lumba. Ada paket berenang bareng dengan lumba-lumba yang sangat menarik, tetapi tiketnya mencapai 150 dollar Singapura atau sekitar Rp 1 juta.
Sentosa Island juga menawarkan pantai yang berpasir putih dan agak kuning. Tidak seperti pantai berpasir putih yang asli seperti di Bali atau Belitung, pasir putih di Pantai Siloso dan Pantai Palawan terasa seperti tambahan.
Namun, pantai di Sentosa Island sangat bersih dan terawat. Selain itu, terdapat bar dan restoran yang menjual masakan lezat dari sejumlah negara.
Hampir mirip Ancol
Ahmad Rizal, turis asal Bandung, mengatakan, Underwater World dan Dolphin Lagoon di Sentosa Island sebenarnya mirip dengan Sea World di Ancol. Hanya harga tiketnya kelewat mahal untuk kantong warga Indonesia, yaitu mencapai 19 dollar Singapura atau sekitar Rp 128.000 per orang.
Sentosa Island dengan luas 500 hektar merupakan kawasan wisata andalan Singapura. Konsepnya mirip dengan Taman Impian Jaya Ancol yang melokalisasi berbagai wahana hiburan dalam satu kawasan. Namun, perawatan, keteduhan, kenyamanan, dan keterhubungan antarwahananya sangat berbeda.
”Di sini, semua wahana hiburan terhubung dengan bus yang selalu lewat dengan jadwal tetap dan gratis. Selain itu, setiap wahana terawat dengan baik sehingga pengunjung menjadi lebih nyaman,” kata Rizal, sambil menggendong anak bungsunya.
Selain bus yang gratis, 70 persen wilayah Sentosa Island dibiarkan menjadi hutan liar. Masih banyak burung liar yang terbang dengan bebas di pulau ini. Keteduhan membuat udara panas pantai tidak terlalu terasa dan udaranya juga segar.
Bachtiar, pengunjung dari Jakarta, mengatakan, Jakarta dapat mengungguli kehebatan Sentosa Island jika menambahkan beberapa sentuhan teknologi maju dalam setiap wahana. Selain itu, perlu juga sarana untuk menghubungkan antarwahana dengan lebih mudah dan gratis.
Variasi pertunjukan di Ancol juga dapat ditingkatkan untuk menarik semakin banyak wisatawan asing dan domestik. ”Pantai Ancol sebenarnya lebih bagus dari pada di sini. Namun, di sini jauh lebih bersih sehingga pengunjung tidak akan ragu untuk bermain di air,” kata Angel. Bisa jadi Sentosa Island adalah ”Ancolnya” Singapura.