Berobat ke Luar Negeri, tak Memuaskan?

Kompas.com - 13/07/2008, 19:37 WIB

Banyak pasien di negeri kita memilih berobat ke luar negeri karena ingin mendapat pelayanan lebih baik dan ditangani dokter-dokter ahli yang berpengalaman.  Namun begitu, berobat ke luar negeri  tak selalu sesuai dengan harapan. Bahkan ada kesan  kemampuan dokter di luar negeri tak selalu lebih baik. selain  biaya pengobatannya sangat mahalnya.

Padahal,  di Indonesia sendiri tidak kurang dokter yang lebih terampil di berbagai bidang. Hanya saja, kelemahanan para dokter di dalam negeri adalah kurangnya komunikasi dengan pasien sehingga sering timbul salah paham.

Berikut adalah penuturan dan pertanyaan seorang pasien yang pernah berobat ke luar negeri kepada Prof dr Samsuridjal Djauzi dalam rubrik Konsultasi Kesehatan yang dimuat Harian Kompas, Minggu (13/7).

SUAMI saya menderita demam lama, hampir satu setengah bulan. Menurut dokter, dia menderita macam-macam penyakit.

Mula-mula diduga demam tifoid, tetapi kemudian diperkirakan tuberkulosis. Saya tak percaya pada diagnosis dokter di Indonesia dan membawa suami ke rumah sakit di negara tetangga.

Pemeriksaan di luar negeri berjalan cepat dan suami didiagnosis menderita HIV. Saya terkejut dengan vonis dokter, tetapi kemudian memahami keadaan ini karena ternyata suami mengakui pernah menggunakan narkoba suntikan sewaktu remaja. Saya merasa khawatir dan juga menjalani tes bersama anak saya. Hasilnya ternyata saya dan anak saya positif.

Saya amat terpukul karena biaya untuk perawatan suami saja sudah membubung: Rp 70 juta untuk lima hari di rumah sakit dan obat. Apalagi kami sekeluarga menginap di hotel.

Saya ditawari minum obat AIDS oleh dokter, tetapi saya ragu karena saya tak merasa keluhan apa pun. Saya minta second opinion ke rumah sakit di kota tersebut yang berafiliasi dengan fakultas kedokteran. Saya mendapat penjelasan benar terinfeksi HIV, tetapi tidak perlu segera minum obat AIDS. Dokter juga menginformasikan, Pemerintah Indonesia menyediakan obat AIDS secara gratis.

Saya pernah mendengar informasi itu, tetapi kurang yakin. Nasihat untuk anak saya juga sama, yaitu sebaiknya mulai obat ARV di Indonesia saja. Saya juga menanyakan keadaan suami saya. Menurut dokter tersebut, dia sebenarnya juga tak perlu secepat itu minum obat AIDS. Pada tahap sekarang yang harus diobati adalah penyakit infeksi oportunistiknya.

Sementara itu, dokter di rumah sakit yang merawat suami mendesak agar obat AIDS segera diberikan. Kami kembali ke Indonesia setelah suami dalam keadaan lebih baik. Biaya yang kami keluarkan jauh lebih tinggi dari dugaan karena tak menyangka suami terinfeksi HIV.

Sekembali di Indonesia, dokter yang telah lama saya kenal mengatakan, untuk berobat infeksi HIV kuranglah tepat berobat ke negara tersebut. Kasus mereka baru sedikit, mungkin dokter di Indonesia lebih berpengalaman dibanding mereka dalam merawat kasus HIV. Di samping itu, bila telah dimulai obat AIDS di luar negeri, sulit menyesuaikannya di Indonesia bila pasien diberikan obat yang tak tersedia di Indonesia.

Pengalaman berobat ke luar negeri kali ini memberi kesan tertentu pada saya. Pertama, rupanya kemampuan dokter di luar negeri tak selalu lebih baik. Kedua, biaya pengobatan bukan main mahalnya. Salah satu obat harus saya tebus seharga Rp 10 juta, padahal ternyata kemudian obat tersebut di Indonesia dapat diperoleh cuma-cuma.

Pertanyaan saya, apakah ada kesepakatan dokter di Indonesia dengan dokter di negara tetangga mengenai obat AIDS? Apakah tak lebih baik terapi obat AIDS dimulai setelah pasien kembali ke Indonesia? Menurut informasi yang saya peroleh, menunda obat selama seminggu atau dua minggu tak apa-apa asalkan infeksi oportunistik diobati dengan baik. Mohon penjelasan Dokter.

M di B

Saya menemui cukup banyak keluarga yang mempunyai pengalaman sama dengan Anda. Kerja sama dokter dan pasien yang baik akan membimbing dokter pada diagnosis yang lebih tepat. Sekiranya dokter mendapat informasi mengenai riwayat penggunaan narkoba pada masa lampau, saya percaya dokter akan memeriksa tes HIV sehingga diagnosis dapat ditegakkan.

Demam pada tahap permulaan memang kemungkinan penyebabnya banyak. Salah satu penyakit yang sering menimbulkan demam adalah demam tifoid. Jadi saya dapat memahami diagnosis awal dokter yang memeriksa suami Anda. Saya ikut merasa senang Anda sekeluarga sekarang sudah mendapat informasi cukup lengkap dan mulai tenang menghadapi penyakit yang menyerang keluarga Anda.

Memang benar Anda sekeluarga perlu mengatur uang dengan baik. Meski obat AIDS mendapat bantuan dari pemerintah sehingga dapat diperoleh cuma-cuma, tetapi masih diperlukan juga biaya untuk tes laboratorium dan konsultasi dokter serta obat lain yang tak ditanggung pemerintah.

Anda dapat memanfaatkan layanan rumah sakit yang sudah berpengalaman menangani kasus AIDS. Sekarang dengan adanya obat ARV (obat AIDS), perjalanan penyakit AIDS sudah berubah. AIDS sekarang dianggap penyakit kronik yang dapat dikendalikan. Artinya, virus di dalam darah dapat ditekan sampai tak terdeteksi, tetapi obat AIDS perlu terus dikonsumsi. Jika terkendali baik, orang dengan AIDS dapat bekerja dan produktif kembali.

Kerja sama antarprofesi kedokteran di kawasan ASEAN dan Asia cukup baik. Secara berkala, dokter-dokter kita bertemu dan membahas penyakit bersama koleganya di negara lain. Umumnya kemampuan dokter di Indonesia tidak lebih rendah daripada koleganya di negara lain. Bahkan dalam beberapa bidang, dokter kita dikenal lebih terampil. Kelemahan dokter di Indonesia adalah dokter kurang berkomunikasi dengan pasiennya sehingga sering timbul salah paham.

Saya setuju dengan pendapat obat ARV dapat dimulai setelah kembali ke Indonesia agar dokter dapat memilih obat AIDS yang tersedia di Indonesia sehingga dapat dipakai secara berkesinambungan.

Obat AIDS di Indonesia sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO). Jadi terapi AIDS di Indonesia sama dengan di negara yang merujuk pada pedoman WHO.

Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI) telah beberapa kali mengomunikasikan hal ini dengan teman- teman di luar negeri dan mereka setuju. Tetapi, jika Anda berobat ke rumah sakit swasta, kemungkinan dokter di rumah sakit tersebut tidak mengetahui informasi itu.

Jadi, jika ingin berobat ke luar negeri pilihlah rumah sakit yang mutunya baik. Juga sesuai dengan pengalaman Anda, pikirlah baik-baik sebelum berobat ke luar negeri karena biasanya biaya pengobatan jauh lebih mahal.

Nah, saya berharap Anda sekeluarga dapat berobat dengan teratur dan mencapai taraf kesehatan yang baik sehingga dapat produktif kembali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau