Pedangdut Terseret Mutilasi

Kompas.com - 15/07/2008, 06:01 WIB

JAKARTA, SELASA - Pedangdut Agus Arya Nugraha diperiksa polisi sebagai saksi kasus mutilasi Heri Santoso (40), petugas marketing sebuah perusahaan besi. Arya mengaku, ia dan Heri sudah seperti kakak adik. Di sisi lain muncul dugaan bahwa Heri dihabisi karena cinta segitiga.

Arya merupakan salah satu dari tiga teman dekat Heri Santoso yang telah diperiksa tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polrestro Jakarta Selatan. Arya merupakan finalis Kontes Dangdut Indonesia (KDI) kedua. Ia mengaku sudah dua kali dimintai keterangan oleh polisi. "Kemarin saya dijemput (lagi) polisi untuk dikonfirmasi. Yang pertama Sabtu lalu, saya dijemput jam 10.00 malam dan dibawa ke Mapolrestro Jakarta Selatan," tutur Arya saat ditemui di dekat kosnya di Cipayung, Jakarta Timur, Senin (14/7) sore.

Menurut Arya, dirinya diperiksa tiga sampai empat jam. Pertanyaan yang diajukan antara lain tentang perkenalannya dengan Heri Santoso. "Awalnya, polisi menyebut nama Heri Purnomo. Kalau nama itu saya enggak kenal. Tapi, setelah disebutkan nama istrinya, saya langsung bilang, oh... mungkin Heri Santoso dan ternyata benar," ucap lelaki asal Denpasar, Bali, itu.

Arya mengaku, dirinya terkejut sekali ketika mendapat kabar bahwa Heri merupakan korban mutilasi yang mayatnya ditemukan di Jalan Kebagusan Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (12/7) pagi. Menurut Arya, pada Jumat (11/7) sekitar pukul 19.00, ia berpapasan dengan Heri yang mengendarai mobil. Saat itu Arya hendak masuk ke rumah kosnya di RT 04/05, Kelurahan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, sedangkan Heri justru meninggalkan rumah kos tersebut. Saat itu juga, Arya menelepon Heri. "Saya bilang, lho kok Mas buru-buru pulang. Terus ia bilang, sorry lagi buru-buru," kata Arya.

Menurut Arya, dari teman-teman kosnya, Heri sudah ada di rumah kos tersebut sejak pukul 14.00.

Kakak-adik

Arya juga mengatakan, dua hari sebelumnya, persisnya Rabu (9/7), Heri juga mengunjungi rumah kosnya. Saat itu Heri kelihatan lelah dan mengeluh sakit migrain. Menurut Arya, saat itu tidak ada yang berubah atau aneh pada Heri. "Rabu itu dia biasa saja," ucapnya.

Menurut Arya, Heri memang sering datang ke rumah kosnya dan akrab dengan para penghuni rumah kos tersebut. Khusus dengan Arya, Heri sangat dekat bahkan hubungan mereka sudah seperti kakak-adik. Arya menjelaskan, dirinya kenal Heri sejak tahun 2005. Mereka dikenalkan seorang kawan Arya. Saat itu Arya sedang ikut KDI. Sejak perkenalan itu Arya dan Heri jadi dekat. Beberapa kali Heri memberi job manggung bagi Arya.

Arya juga mengatakan, Heri sering ikut jika dirinya show ke daerah. "Kami seperti keluarga. Saya sangat kenal dengan Heri, istri, dan anaknya. Begitu pula sebaliknya, keluarga Heri juga kenal orangtua dan keluarga saya. Orangtua saya di Bali jadi tenang karena selama saya di Jakarta ada keluarga yang bisa dipercaya," ucapnya.

Menurut Arya, setidaknya sekali dalam seminggu Heri selalu menyempatkan diri mengontaknya melalui ponsel. Selain itu, Arya dan Heri kerap jalan bareng ke mal dan berenang. Jika Heri main ke rumah kos di Lubang Buaya itu, ayah satu anak tersebut selalu menyempatkan diri menemui Arya.

Arya menilai, Heri adalah pria baik-baik dan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Setahu Arya, Heri tidak punya utang dan tidak punya musuh. Arya juga menegaskan, jika Heri punya masalah, ia pasti menceritakan masalahnya.

Ketika diminta konfirmasi tentang gosip ia dan Heri adalah sepasang kekasih, Arya dengan santai mengatakan bahwa itu hanyalah gosip. "Mungkin karena korbannya dimutilasi," ucapnya. Ia menambahkan, setahunya, mutilasi banyak menimpa pria yang memiliki asmara sejenis. Namun, Arya juga menegaskan bahwa dirinya bukanlah pacar Heri. "Saya masih jomblo kok," ucapnya.

Cinta segitiga?

Sementara itu, Kepala Polrestro Jakarta Kombes Chairul Anwar mengatakan, sampai Senin siang pihaknya sudah meminta keterangan sejumlah saksi. Para saksi antara lain teman dekat dan kerabat korban. Tetapi, Chairul tidak menyebutkan secara rinci saksi-saksi tersebut. "Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan sebanyak mungkin bukti," ujarnya, Senin siang.

Chairul Anwar membenarkan bahwa korban mulitasi itu benar Heri Santoso, warga Kampung Benda, Jatiasih, Kota Bekasi. Kepastian korban mutilasi di Pasar Minggu adalah Heri Santoso didapat setelah penyidik membandingkan sidik jari korban dengan sidik jari Heri yang didapat dari ijazah.

Secara terpisah, istri Heri, Ayu, membantah suaminya terlibat cinta segitiga sehingga menimbulkan dendam bagi seseorang yang kemudian tega menghabisi Heri. "Saya tidak percaya, selama ini perilaku suami saya normal saja. Berita itu tidak benar," katanya saat dikonfirmasi melalui telepon, semalam. Ayu yang dinikahi Heri dua tahun lalu justru menduga suaminya tewas sebagai korban perampokan. "Menurut saya, motifnya perampokan," ujarnya.

Tewasnya Heri sebagai korban mutilasi memunculkan berbagai dugaan di kalangan penyidik. Dugaan tersebut antara mutilasi itu dilatarbelakangi cinta segitiga, cinta sejenis, dan perampokan. "Memang mobil APV dan barang-barang berharga korban hilang. Kita sedang mendalami itu. Tapi, bisa saja ada motif lain, misalnya cinta segitiga," kata seorang penyidik.

Barang berharga Heri yang hilang di antaranya laptop, kalung, dompet, dan ponsel. Penyelidikan tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polrestro Jakarta Selatan menemukan petunjuk bahwa diduga kuat Heri dihabisi di sebuah tempat di luar Jakarta.

Hasil otopsi ahli forensik yang diterima polisi menyebutkan, korban diperkikan dihabisi Sabtu (12/7) dini hari. Pada Jumat malam, antara pukul 19.00 dan 24.00 Heri makan malam. Perkiraan itu didasarkan pada temuan makanan di lambungnya yang tergolong masih baru. "Setelah makan korban dihabisi," kata seorang penyidik.
(WARTA KOTA/WID/DED/YOS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau