Kamar Mayat Diminta Siap

Kompas.com - 16/07/2008, 06:24 WIB

SURABAYA - Tanda-tanda makin dekatnya waktu eksekusi terpidana mati Sumiarsih dan anaknya Sugeng terlihat jelas kemarin. Salah-satunya ditunjukkan dari adanya permintaan terhadap para petugas kamar mayat RSU Dr Soetomo Surabaya untuk siaga mulai kemarin.

Sugeng dan Sumiarsih terpidana kasus pembunuhan Letkol (Marinir) Purwanto dan empat anggota keluarganya pada 1988

Bahkan informasi yang diperoleh Surya menyebutkan, pada pukul 20.30 WIB tadi malam, Sumiarsih telah dibawa dari LP Wanita Sukun (Malang) menuju LP Medaeng di perbatasan Sidoarjo-Surabaya.

Sumiarsih dinaikkan mobil Isuzu Panther warna hijau gelap Nopol N 1709 AT. Sumiarsih mengenakan baju putih dan duduk di jok belakang dan dikawal 6 petugas.

Kepala LP Wanita Sukun, Malang, Entin Martini BcIP SH, belum berhasil dikonfirmasi terkait pemindahan Sumiarsih ini. Ponselnya ketika dihubungi Surya, Selasa (15/7) malam, tidak aktif.

Namun demikian, Andreas Nurmandala, pendamping rohani Sumiarsih, membenarkan adanya pemindahan tersebut. “Begitu dapat informasi itu, saya langsung telepon ke petugas LP Sukun. Petugas itu membenarkan bahwa Bu Sih (panggilan Sumiarsih) Selasa (15/7) sekitar pukul 20.30 WIB dipindah ke LP Medaeng,” ungkap Andreas saat dihubungi Surya.

Rencananya Andreas akan membesuk Sumiarsih ke LP Medaeng, Rabu (16/7).

“Malam ini (tadi malam, Red) saya tidak dapat mendampingi karena kebetulan ada acara lain,” jelasnya.

Menurut informasi yang diperoleh Surya, sebelum sampai Surabaya (atau persisnya Rutan Medaeng), Sumiarsih dikabarkan akan dipertemukan dulu dengan Sugeng di LP Porong, Sidoarjo. Kemudian, setelah pertemuan ibu dan anak bungsunya itu, keduanya akan sama-sama diberangkatkan ke Medaeng menunggu menjalani eksekusi dengan ditembak di sebuah lokasi yang dirahasiakan.

Menurut sejumlah petugas kamar mayat RSU Dr Soetomo, instruksi siaga diberikan oleh direksi rumah sakit, dan beredar di jajaran Instalasi Kedokteran Forensik (IKF), yang di antaranya membawahi kamar jenazah, bagian otopsi dan bagian forensik.

Karena itu, mulai dari dokter bagian forensik, pelaksana otopsi, petugas penerimaan jenazah, pengemudi ambulans dan petugas kebersihan atau cleaning service (CS) sudah bersiaga sejak kemarin.

“Ada tugas dari direktur, mulai nanti malam (tadi malam, red) kita harus lembur sampai tengah malam,” seru seorang petugas, memberi kabar kepada dua rekannya yang sama-sama bertugas di IKF, Selasa (15/7).

Salah-satu rekan kemudian bertanya sampai kapan diberlakukan lembur dan untuk apa, petugas pemberi kabar itu menjawab bahwa lembur akan berlaku 2-3 hari mendatang. “Tidak tahu untuk apa. Tapi, tadi ada yang bilang untuk menyambut kedatangan jenazah Sumiarsih dan Sugeng. Pokoknya, kita diminta menjaga kebersihan tempat ini, jangan sampai banyak sampah dan debu pada hari-hari lembur itu,” jawabnya.

Menurut sumber Surya di RSU Dr Soetomo, permintaan kesiapsiagaan rumah sakit terbesar di Indonesia timur itu dilayangkan oleh kejaksaan tinggi (Kejati) Jatim secara tertulis.

“Ada orang-orang dari instansi penegak hukum yang sempat meninjau IKF pada Senin lalu,” kata sumber yang tak mau disebut namanya itu.

Ditemui secara terpisah, Direktur RSU Dr Soetomo Dr dr Slamet R Yuwono DTM&H MARS. Slamet mengakui bahwa pihak RSU memang sudah siap melakukan otopsi jenazah kedua terpidana mati. Pelaksanaannya tinggal tunggu perintah dari Kejaksaan Tinggi Jatim.

“Rumah sakit siap. Pelaksanaan tugasnya terserah dari Pak Kajati (Kepala Kejaksaan Tinggi) Jatim. Juga berapa ambulans yang diperlukan, tunggu perintah Pak Kajati. Nanti kalau sudah dapat berita dari Pak Kajati, kami langsung kirimkan  tim,” terang Slamet usai mengikuti rapat koordinasi (rakor) Tim Eksekutor Sumiarsih dan Sugeng di kantor Kejati Jatim Jl Ahmad Yani, Surabaya, Selasa (15/7) siang. rie/k1

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau