Pelabuhan

PT Pelindo II Perluas Terminal Kendaraan

Kompas.com - 17/07/2008, 01:26 WIB

Jakarta, Kompas - PT Pelabuhan Indonesia II segera memperluas terminal kendaraan di Pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta atau Tanjung Priok Car Terminal sehingga dapat melayani 300.000 kendaraan per tahun. Terminal ini digunakan untuk ekspor-impor kendaraan.

Perluasan Tanjung Priok Car Terminal (TPCT) dapat dimulai setelah relokasi Galangan III Perkapalan PT Dok Kodja Bahari (PT DKB) dari Tanjung Priok ke Pulau Batam disepakati. Relokasi ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/ MOU) antara PT Pelindo II dan PT DKB, Rabu (16/7) di Kantor Menteri Negara BUMN.

”Kini, kapasitas TPCT 200.000 kendaraan per tahun dengan luas lahan 7,3 hektar. Setelah relokasi galangan III itu, kapasitas TPCT bertambah 100.000 kendaraan per tahun, luas lahan bertambah 4-5 hektar,” kata A Syaifuddin, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II.

Selain itu, kata Syaifuddin, Pelindo II akan menambah panjang dermaga TPCT dari 300 meter menjadi 600 meter. Lapangan parkir juga diperluas.

Dia menambahkan, fasilitas galangan di Tanjung Priok telah banyak sehingga relokasi Galangan III Dok Kodja tidak mengganggu kemampuan perawatan kapal di pelabuhan itu.

Pelindo II juga berencana memberi kompensasi kepada PT DKB terkait relokasi galangan III. Namun, perhitungan kompensasi belum diselesaikan oleh konsultan independen.

Direktur Utama PT DKB Riry Syeried Jetta mengharapkan relokasi galangan III ke Pulau Batam dapat meningkatkan omzet bisnisnya hingga dua kali lipat.

Di Tanjung Priok, galangan III mampu membangun kapal berbobot 30.000-50.000 deadweight-ton (DWT), sementara kemampuan galangan di Batam diperkirakan hingga 80.000 DWT.

”Bila galangan III di Tanjung Priok mampu membangun 1-2 kapal per tahun, setelah direlokasi membangun 3-4 kapal per tahun,” tutur Riry.

Saat ini Pulau Batam dikenal sebagai klaster galangan kapal. Ada 90 galangan didirikan di pulau itu meski hanya 60 yang aktif. Sebagian besar dibangun berafiliasi dengan pengusaha Singapura. Fasilitas bebas pajak serta harga lahan yang relatif murah menjadi daya tarik pembangunan galangan di Pulau Batam.

”Dok Kodja Bahari menjadi BUMN pertama yang membangun galangan di sana, mulai September 2008 dan diharapkan selesai dalam 1,5 tahun,” kata Riry.

Untuk tujuan itu, lanjut Riry, dibutuhkan investasi Rp 800 miliar. ”Investor dari Korea Selatan sudah menawarkan pinjaman dana,” tutur Riry.

Terminal Kilang Banten

Selain menandatangani MOU dengan PT DKB, yang disaksikan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Dirut PT Pelindo II juga menandatangani MOU dengan Dirut PT Pertamina.

Pelindo II dan Pertamina sepakat membangun kilang serta mengoperasikan terminal khusus kilang Banten Bay di Pelabuhan Internasional Bojonegara, Banten. Lokasi terminal khusus kilang itu merupakan lahan yang hak pengelolaannya dipegang PT Pelindo II.

Pertamina akan bekerja sama dengan perusahaan minyak Iran dan Malaysia untuk mengelola kilang, yang mulai dibangun pada 2009 dan beroperasi tahun 2012. Pada tahap pertama, produksi kilang ini diharapkan mencapai 150.000 barel minyak/hari. (RYO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau