Srilanka, Polisi-Waga Bentrok Saat Penggusuran

Kompas.com - 19/07/2008, 01:06 WIB

KOLOMBO, JUMAT- Ratusan pengunjuk rasa yang marah mencegat kereta api dan terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian di Kolombo, ibukota Srilanka. Aksi unjuk rasa yang berlangsung sepanjang hari Jumat (18/7) kemarin itu sendiri dilakukan menyusul tindakan pemerintah lokal Kolombo menggusur sekitar 80 rumah penduduk yang dibangun tanpa izin.

Selain menghentikan kereta api selama beberapa jam, massa pengunjuk massa yang marah juga melampiaskan kekesalannya dengan menempatkan bebatuan dan merintangkan berbagai pepohonan di badan jalan. Polisi melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa.

Menurut Ravi Karunayake dari pihak oposisi, penggusuran rumah-rumah penduduk yang diwarnai tindak kekerasan sempat dilakukan setelah ada penetapan dari pengadilan. Akan tetapi penggusuran itu dihentikan menyusul aksi protes penduduk.

Ditambahkan Karunayake, penghancuran rumah-rumah penduduk itu merupakan bagian dari rencana pemerintah untuk meningkatkan keamanan guna menghadapi pertemuan pemimpin Asia Selatan yang akan segera dimulai pada akhir bulan ini.

Menurut dia, tidak ada penjelasan dari pihak pemerintah bagaimana mungkin pembersihan lahan dan penggusuran rumah penduduk bisa meningkatkan keamanan. Yang jelas, lokasi yang digusur itu tak jauh dari markas pusat militer.

Juru bicara kepolisian Ranjith Gunasekara menyatakan, meskipun penghancuran rumah penduduk itu dilakukan berdekatan dengan pertemuan para pemimpin Asia Selatan (South Asian Association for Region Cooperation Summit, pemerintah memberikan cukup waktu kepada penduduk untuk mendapatkan tempat tinggal.

Pertemuan para pemimpin Asia Selatan itu sendiri dijadwalkan akan dimulai 27 Juli. Pemerintah Kolombo sebegai tuan rumah pertemuan memberikan jaminan keamanan maksimum terhadap para delegasi yang hadir dalam pertemuan itu.

Seperti diketahui, Srilanka mengalami konflik berkepanjangan dalam 25 tahun terakhir melawan Kelompok Macan Tamil yang ingin memisahkan diri dari Kolombo. Lebih dari 70.000 jiwa melayang selama konflik panjang itu.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau