BI Tak Perlu Pinjam YPPI, Bisa Cetak Uang

Kompas.com - 23/07/2008, 18:45 WIB

JAKARTA, RABU - Mantan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI), Anwar Nasution, menilai bank sentral tidak perlu meminjam dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia saat membutuhkan uang untuk memberi bantuan kepada para mantan pejabatnya. Menurut dia, BI bisa mencetak uang untuk memenuhi kebutuhan itu.

Anwar yang kini Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengatakan, soal mencetak uang ini jelas terdapat pada text book tentang keuangan dan perbankan. Hal ini dikatakannya saat bersaksi di Pengadilan Tipikor di Pengadilan Tipikor, Rabu (23/7) malam ini.

Mendengar hal tersebut, Burhanuddin Abdullah, mantan gubernur BI yang menjadi terdakwa kasus penyalahgunaan dana YPPI pun bertanya, "Saya pertanyakan apa benar BI untuk menambah anggaran itu bisa dengan mencetak uang?" 

"Ee... Saya kira bisa. Kita bisa mengajukan tambah uang kepada DPR. Itu bedanya BI dan Depkeu. Depkeu itu harus mengumpulkan dari pajak. Bacalah itu text book mengenai keuangan dan bank," jawab Anwar.

"Agak sulit kalau begitu. Saya terima saja itu, tapi informasi yang saya sampaikan, pertama keuangan BI saat itu sedang defisit. Kedua, penghasilan BI tidak bisa dari pencetakan uang. Dia harus dari hasil pengelolaan devisa, pengolaan kredit, aktivitas produktif BI. Bukan dari pencetakan uang," bantah Burhanuddin.

Pada akhir kesaksian Anwar, Burhanuddin mengatakan sangat berkeberatan dengan pernyataan Ketua BPK yang tidak konsisten itu. Menurut dia, bagi orang yang mengerti proses kerja BI, mencetak uang sangatlah tidak mungkin hanya untuk menambah anggaran.

Namun, Anwar tetap bersikukuh dengan pernyataannya itu. "Namanya juga bank sentral, (bank sentral) di mana saja bisa cetak uang. Itu text book ya," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau