PALEMBANG - Laskar Sriwijaya atau Sriwijaya Football Club (SFC) terancam bangkrut. Bukan saja DP (panjar) pemain yang belum lunas seratus persen, tapi gaji pemain serta pelatih pun mandek sampai dua bulan. Akibatnya HMC Bariyadi sebagai manajer tim --yang juga pengusaha-- terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk menutupi sebagian besar kebutuhan keuangan ini. Hingga kini mencapai Rp 2 miliar.
Bukan saja untuk urusan gaji pemain dan pelatih, dana operasional tim pun seakan dilimpahkan pengurus Yayasan SFC kepada sang manajer. HMC Bariyadi lalu buka mulut dan bicara gamblang soal seretnya keuangan SFC ini.
“Gaji pemain, biaya operasional mulai dari launching sudah saya yang biayai. Saya, artinya dana dari saya sebagai pribadi, bukan dana manajer. SSB juga sudah jalan dan gaji pelatihnya dari saya. U-21 juga sudah dibentuk dan gaji pemain dan pelatih sudah saya bayar dari dana pribadi,” ungkap Manajer tim SFC, HMC Bariyadi di Sekretariat SFC kawasan PS Mallm, Rabu (23/7).
Pengusaha asal Sleman ini mengemukakan kesulitannya sebagai penanggung jawab dan manajer SFC. Bahkan ia mengatakan pajak tiket serta uang untuk panitia pelaksana pertandingan home SFC pun harus ia talangi yang entah kapan dikembalikan. Akibat krisis keuangan ini juga, dua bulan gaji pemain dan pelatih yakni bulan pertama pertandingan liga tahun ini (April) dan Juni lalu belum dibayar.
“Beberapa pemain juga sudah diberikan kasbon (pinjaman sementara, red) dan itu menggunakan uang saya. Semuanya ini sudah saya laporkan sebagai pengajuan anggaran bulanan kepada yayasan SFC. Namun hingga kini dana tersebut belum keluar,” jelas Bariyadi.
Dengan belum keluarnya dana ini, Bariyadi mengatakan sudah melakukan cara persuasif untuk menyelesaikan masalah ini. Mulai dari bertatap muka dengan menyampaikan langsung ke Ketua Umum Yayasan SFC (Ridwan Mukti), Ketua Harian (Budi Rahardjo) dan Sekretaris Umum (Johan Syafri). Namun tetap saja tidak ada jawaban yang memuaskan dan ujung-ujungnya minta Bariyadi yang menutupi.
Dengan mandegnya pemenuhan hak pemain ini akan memberikan efek yang besar terhadap penampilan SFC. Pemain bisa jadi bermain tidak baik lantaran ada beban pikiran. “Saya sudah telepon dan SMS ke Pak Syahrial Oesman (Gubernur Sumsel) dan jajaran pengurus di bawahnya, seluruhnya rata-rata tidak menjawab dan tidak mengangkat telpon. Mereka juga tidak membalas SMS (pesan singkat). Yang ada, sebelum pertandingan lawan Persiwa ada jawaban sms, Pak Haji tolong sebelum bertanding gaji pemain dibayar dulu. Dananya pinjam dulu,” ujar Bariyadi menirukan isi sms dari pengurus yang ia enggan menyebutkan namanya.
Menurut Bariyadi kesulitan keuangan yang melanda SFC saat ini juga diakibatkan usai musim 2007 lalu tidak ada kejelasan tutup buku keuangan SFC. Hingga tidak ada pertanggungjawaban dari pengurus tentang kemana arah keuangan SFC.
Selain itu kurangnya komitmen dan komunikasi masing-masing pengurus juga menjadi kendala. Ia mengatakan sebagai peraih double winner, mestinya SFC memiliki uang lebih. Ia mencontohkan Sebanyak 70 persen uang hadiah diberikan kepada pemain dan pelatih sedangkan 30 persennya untuk pembinaan.
Namun uang 30 persen ini pun tidak jelas alokasinya. Dana bantuan dari APBD sebesar Rp 7,5 miliar pun hanya bersisa Rp 2,5 miliar. Uang ini digunakan untuk membayar uang DP awal pemain.
“Sebenarnya kalau dari segi keuangan saya masih kuat. Namun dari segi perasaan saya tidak kuat lagi. Coba lihat di struktur yayasan, kan banyak bupati. Harusnya mereka yang menutupi kita, bukan kita yang menutupi mereka,” keluh Bariyadi.
Terancam Kolaps
Diungkapkan Bariyadi, para skuad SFC pun belum menerima gaji bulan pertama, April serta Juni lalu. Sedangkan untuk gaji pemain saat melawan PSMS medan lalu saja menggunakan uang pribadinya. “Sebelum pertandingan melawan Persiwa kemarin, ada pengurus yang sms, untuk meminta saya membayar gaji pemain terlebih dahulu karena mereka sedang tidak punya uang. Saya balas, bisa saja, mana nomer rekeningnya. Namun saya tanya kapan uangnya mau dikembalikan, mereka menjawab nanti akan di prioritaskan kalau ada dana. Yang saya butuhkan adalah kepastian waktu. Kalau mereka memberikan kejelasan waktu akan saya pinjamkan,” katanya.
Sementara itu, dengan keadaan keuangan yang terlihat jelas seret ini, maka Laskar Sriwijaya bukan tidak mungkin akan kolaps dan terhenti di tengah jalan. Jika pengurus terus menerus menggantungkan pendanaan kepada Bariyadi, dapat dipastikan umur klub peraih double winner ini tidak akan lama.
Bariyadi berharap masalah ini bisa segera terselesaikan. Ia juga mengharapkan bantuan masyarakat untuk membantu dengan membeli barang atau tiket saat nonton SFC.
“Inilah keadaan finansial klub. Inilah juga kesulitan kami di tim. Jika tidak ingin SFC ini kolaps atau terhenti di tengah jalan maka SFC ini harus ditolong. Kewajiban pengurus juga untuk menyelamatkan klub ini dan tolong berikan bantuan khususnya dana. Kepada masyarakat juga diharapkan bantuan dengan membeli barang SFC atau tiket pertandingan. Jika tidak ada dana saya yakin hasil pertandingan akan jelek. Juga kita tidak akan bisa main partai tandang,” tegas Bariyadi. (zys)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang