Candi Garuda di Prambanan Resmi Dibuka Kembali

Kompas.com - 26/07/2008, 19:52 WIB

YOGYAKARTA, SABTU - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik meresmikan kembali pembukaan atau reopening Candi Garuda di Komplek Candi Prambanan, Yogyakarta, Sabtu (26/7), yang selesai direhabilitasi dari kerusakan akibat gempa bumi tahun 2006.

Untuk selanjutnya candi ini boleh didekati. Wisatawan yang penasaran dan ingin melihat ruangan dalam candi diperbolehkan menaiki tangga dan memasukinya. Pagar yang sebelumnya membatasi wisatawan dengan area rehabilitasi, termasuk Candi Garuda disisihkan. Sebelumnya, wisatawan hanya bisa melihat candi dari luar pagar.

Selain Garuda, masih ada candi lain yang tengah dalam proses maupun menunggu direhabilitasi, seperti Candi Nandi yang sudah dimulai, serta Brahma, Wisnu, dan Angsa yang menunggu tahun berikutnya. Wisnu sendiri boleh didekati wisatawan karena kondisinya dianggap layak dan tidak membahayakan.

"Setelah gempa, candi Prambanan banyak yang rusak. Presiden berkunjung ke sini, setelah itu koordinasi dengan UNESCO dan (negara -negara) ASEAN untuk bertahap dilakukan rehabilitasi. Terpaksa kami tutup kompleksnya karena banyak sekali getaran. Selama dua tahun (candi dan reruntuhan) dirapikan. sekarang tidak ada lagi yang goyang, batu yang instabil diturunkan," ujar Jero Wacik yang berharap agar wisatawan kembali datang ke Candi Prambanan.

Direketur Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Hari Untoro Drajat mengatakan rehabilitasi Candi Prambanan secara keseluruhan menghabiskan dana sekitar Rp 50 miliar yang diperoleh dari APBN, UNESCO, dan berbagai institusi. Kegiatan perbaikan dilakukan padat karya dengan melibatkan penduduk sekitar sebagai tukang.

Sebelum merehabilitasi candi yang rusak, terlebih dahulu dilakukan penyelamatan yang berlangsung 19 Juni-30 September 2006. Setelah itu dilakukan studi dan penelitian yang melibatkan pakar dari berbagai disiplin ilmu, baik nasional (Universitas Gadjah Mada) maupun internasional yang berlangsung Oktober 2006-Agustus 2007.

Setelah melalui kajian mendalam dan keterbatasan dana maka sasaran proses rehabilitasi didasarkan pada prioritas. Awal rehabilitasi dilakukan pada Candi Garuda lantaran tingkat kerusakannya yang membahayakan.

"Hanya Candi Siwa yang perlu penelitian lebih seksama, karena pada pemugaran terdahulu, pada jaman Belanda, yang mana batunya diberi perekat semen. Sehingga batunya sangat rekat," kata Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala DI Yogyakarta, Herni Pramastuti.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau