YOGYAKARTA, SABTU - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik meresmikan kembali pembukaan atau reopening Candi Garuda di Komplek Candi Prambanan, Yogyakarta, Sabtu (26/7), yang selesai direhabilitasi dari kerusakan akibat gempa bumi tahun 2006.
Untuk selanjutnya candi ini boleh didekati. Wisatawan yang penasaran dan ingin melihat ruangan dalam candi diperbolehkan menaiki tangga dan memasukinya. Pagar yang sebelumnya membatasi wisatawan dengan area rehabilitasi, termasuk Candi Garuda disisihkan. Sebelumnya, wisatawan hanya bisa melihat candi dari luar pagar.
Selain Garuda, masih ada candi lain yang tengah dalam proses maupun menunggu direhabilitasi, seperti Candi Nandi yang sudah dimulai, serta Brahma, Wisnu, dan Angsa yang menunggu tahun berikutnya. Wisnu sendiri boleh didekati wisatawan karena kondisinya dianggap layak dan tidak membahayakan.
"Setelah gempa, candi Prambanan banyak yang rusak. Presiden berkunjung ke sini, setelah itu koordinasi dengan UNESCO dan (negara -negara) ASEAN untuk bertahap dilakukan rehabilitasi. Terpaksa kami tutup kompleksnya karena banyak sekali getaran. Selama dua tahun (candi dan reruntuhan) dirapikan. sekarang tidak ada lagi yang goyang, batu yang instabil diturunkan," ujar Jero Wacik yang berharap agar wisatawan kembali datang ke Candi Prambanan.
Direketur Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Hari Untoro Drajat mengatakan rehabilitasi Candi Prambanan secara keseluruhan menghabiskan dana sekitar Rp 50 miliar yang diperoleh dari APBN, UNESCO, dan berbagai institusi. Kegiatan perbaikan dilakukan padat karya dengan melibatkan penduduk sekitar sebagai tukang.
Sebelum merehabilitasi candi yang rusak, terlebih dahulu dilakukan penyelamatan yang berlangsung 19 Juni-30 September 2006. Setelah itu dilakukan studi dan penelitian yang melibatkan pakar dari berbagai disiplin ilmu, baik nasional (Universitas Gadjah Mada) maupun internasional yang berlangsung Oktober 2006-Agustus 2007.
Setelah melalui kajian mendalam dan keterbatasan dana maka sasaran proses rehabilitasi didasarkan pada prioritas. Awal rehabilitasi dilakukan pada Candi Garuda lantaran tingkat kerusakannya yang membahayakan.
"Hanya Candi Siwa yang perlu penelitian lebih seksama, karena pada pemugaran terdahulu, pada jaman Belanda, yang mana batunya diberi perekat semen. Sehingga batunya sangat rekat," kata Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala DI Yogyakarta, Herni Pramastuti.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang