Presiden: Kembangkan Kreativitas untuk Promosi Budaya

Kompas.com - 26/07/2008, 20:53 WIB

MAGELANG, SABTU - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan kepada negara-negara ASEAN yang memiliki persamaan budaya dan peradaban untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam mempromosikan warisan budaya di setiap negara dan menarik wisatawan.

"Berikan kemasan yang lebih variatif dalam promosi dan ekspresi warisan budaya sehingga keseluruhan tampilannya benar-benar menjadi produk ekonomi warisan dan ekonomi budaya yang bernilai tinggi yaitu tampilan seni budaya yang menarik, indah, dan berkesan bagi para wisatawan," katanya dalam pidato sambutannya saat membuka Trails of Civilization (TOC) "The Journey of Buddha" di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (26/7) malam.

Selain itu, lanjut Kepala Negara, dalam pengelolaan dan promosi warisan sejarah dan budaya setiap negara hendaknya juga menjaga nilai-nilai sejarah dan budaya tersebut agar tetap murni dan sarat pesan moral dan spiritual.

Dalam pagelaran kesenian TOC itu, lima negara ASEAN yang memiliki jejak peradaban Buddha (Thailand, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Indonesia) menampilkan sendratari perjalanan Sang Budha yang dinilai oleh Presiden Yudhoyono sebagai kesenian yang sarat dengan kandungan nilai-nilai luhur.

"Pagelaran seni ini juga menggambarkan perjalanan spiritual Buddha yang melukiskan keteguhan dan tekad yang kuat untuk mencapai tujuan mulia. Sebuah sikap hidup yang mudah-mudahan menjadi sumber motivasi bagi umat Buddha khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya dalam mengatasi berbagai persoalan dan tantangan zaman dewasa ini," katanya.

Khusus kepada Menbudpar RI, Presiden Yudhoyono berpesan untuk melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait agar dapat melakukan berbagai terobosan dan inovasi dalam memajukan industri pariwisata di tanah air. "Mari kita tingkatkan promosi wisata kita, selaras dengan program nasional Tahun Kunjungan ke Indonesia 2008," katanya.

Sementara itu Ketua Umum Walubi, Hartati Murdaya mengatakan bahwa sasaran kegiatan Tapak Tilas Borobudur adalah menjadikan perayaan Waisak sebagai atraksi wisata ziarah dan meningkatkan arus kunjungan wisata mancanegara untuk terus menyukseskan Visit Indonesia Year 2008.

Pagelaran kesenian TOC diisi dengan pagelaran sendratari bernuansa Buddha dari sejumlah negara, antara lain sendratari "Enlightment" dari Laos, "Angulimala Jataka" dari Myanmar, "Human Nature" dari Thailand, "Len Dong" dari Vietnam, dan "Raja Asoka" dari Indonesia.

Masing-masing negara tampil selama sekitar 10 menit, kecuali tim kesenian Indonesia yang diwakili Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta yang tampil selama 40 menit.

Sebelum acara, dilakukan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh Biksu Dhyanavira Mahathavira dan Tari Lantera sebagai tari penyambutan.

TOC atau Jejak-jejak Peradaban adalah kerja sama negara-negara di ASEAN yang akan menjadi agenda tahunan di Candi Borobudur untuk meningkatkan kunjungan wisata di kawasan tersebut.

Pusat kegiatan berlangsung di Taman Lumbini sebelah timur kaki Borobudur yang dibangun di antara Kali Elo dan Kali Progo sekitar masa Dinasti Syailendra.

Kerja sama sejumlah negara ASEAN untuk TOC telah dilakukan sejak 2006 yang melibatkan enam negara Thailand, Vietnam, Laos, Myanmar, Indonesia, dan Kamboja.

Hadir dalam acara tersebut Duta Besar para negara sahabat, Menteri Pariwisata negara-negara ASEAN terutama yang mayoritas penduduknya beragama Buddha, serta sejumlah pejabat negara diantaranya Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Menteri Agama Maftuh Basyuni, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Jubir Kepresidenan Dino Patti Djalal dan Andi Malarangeng, serta Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau