Ironi Puncak Hari Anak

Kompas.com - 27/07/2008, 16:29 WIB

JAKARTA, MINGGU - Hari ini ratusan bahkan ribuan anak di Jakarta dan sekitarnya merayakan puncak Hari Anak Nasional di Jalan Thamrin. Mereka bebas meluapkan keingintahuannya akan kehidupan sosial ataupun pengetahuan di sejumlah arena simulasi di sepanjang jalan itu. Pendeknya mereka bergembira.

Tetapi, tak semua bisa menikmati kegembiraan itu. Di jembatan penyeberangan depan Pusat Perbelanjaan Sarinah, seorang anak tergolek tanpa alas. Nur Cahaya namanya. Anak berumur sekitar 10 tahun itu tiduran di jembatan penyeberangan hanya untuk mendapatkan sekeping uang Rp 100 atau Rp 200.

Meski sebenarnya tidak terlelap, matanya tetap terpejam. Sesekali, matanya terbelalak melihat sekerumunan orang yang berjalan di jembatan penyeberangan itu. Lain waktu ia membalikkan badan untuk dapat melihat ratusan anak yang berjalan di Jalan Thamrin. Namun, ia mengaku tidak memiliki keinginan berbaur dengan anak-anak itu, ketika Kompas.com bertanya kepadanya.

"Enggak. Enggak pengin. He-he-he...," ujarnya terkekeh sambil terus melihat ke arah kerumunan anak sebayanya. "Kan ada banyak mainan. Enggak pengen?" tanya Kompas.com lagi. "Enggak," jawabnya sambil tetap memandang jalanan.

Anak ketiga dari lima bersaudara ini tidak pernah sekalipun mengenyam pendidikan. Ini tentunya sangat kontras dengan ribuan anak-anak yang menguasai Jalan Thamrin. Ayahnya yang hanya berprofesi sebagai seorang sopir bajaj tidak sanggup menyekolahkan Nur dan saudaranya.

Kulit Nur yang hitam dan kotor tak sedikit pun mengundang perhatian orang sekelilingnya. Pada saat anak yang lain bermain ditemani orangtua dan mainan kesayangannya, Nur hanya ditemani sebuah kaleng bekas ringsek untuk tempat uang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau