JAKARTA, MINGGU - Hari ini ratusan bahkan ribuan anak di Jakarta dan sekitarnya merayakan puncak Hari Anak Nasional di Jalan Thamrin. Mereka bebas meluapkan keingintahuannya akan kehidupan sosial ataupun pengetahuan di sejumlah arena simulasi di sepanjang jalan itu. Pendeknya mereka bergembira.
Tetapi, tak semua bisa menikmati kegembiraan itu. Di jembatan penyeberangan depan Pusat Perbelanjaan Sarinah, seorang anak tergolek tanpa alas. Nur Cahaya namanya. Anak berumur sekitar 10 tahun itu tiduran di jembatan penyeberangan hanya untuk mendapatkan sekeping uang Rp 100 atau Rp 200.
Meski sebenarnya tidak terlelap, matanya tetap terpejam. Sesekali, matanya terbelalak melihat sekerumunan orang yang berjalan di jembatan penyeberangan itu. Lain waktu ia membalikkan badan untuk dapat melihat ratusan anak yang berjalan di Jalan Thamrin. Namun, ia mengaku tidak memiliki keinginan berbaur dengan anak-anak itu, ketika Kompas.com bertanya kepadanya.
"Enggak. Enggak pengin. He-he-he...," ujarnya terkekeh sambil terus melihat ke arah kerumunan anak sebayanya. "Kan ada banyak mainan. Enggak pengen?" tanya Kompas.com lagi. "Enggak," jawabnya sambil tetap memandang jalanan.
Anak ketiga dari lima bersaudara ini tidak pernah sekalipun mengenyam pendidikan. Ini tentunya sangat kontras dengan ribuan anak-anak yang menguasai Jalan Thamrin. Ayahnya yang hanya berprofesi sebagai seorang sopir bajaj tidak sanggup menyekolahkan Nur dan saudaranya.
Kulit Nur yang hitam dan kotor tak sedikit pun mengundang perhatian orang sekelilingnya. Pada saat anak yang lain bermain ditemani orangtua dan mainan kesayangannya, Nur hanya ditemani sebuah kaleng bekas ringsek untuk tempat uang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang