Heboh, Massa Artalyta Rebutan Nasi Padang

Kompas.com - 29/07/2008, 15:29 WIB

JAKARTA, SELASA - Ratusan pendukung terdakwa kasus dugaan suap jaksa Urip Tri Gunawan, Artalyta Suryani, terlihat tenang saat majelis hakim Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, memutuskan menjatuhkan vonis 5 tahun dan denda Rp250 juta kepada pengusaha itu, Selasa (29/7). 

Namun, ketenangan ini berubah menjadi kericuhan beberapa saat setelah Artalyta meninggalkan Gedung Pengadilan. Kericuhan ini bukan kericuhan yang melibatkan pukulan ataupun tembakan. Kericuhan ini hanya dipicu oleh sekotak nasi padang. Nasi padang itu dibagikan seseorang dari mobil Avanza warna silver. 

Nasi padang dengan lauk ayam dan telur itu rupanya jatah santap siang pendukung Artalyta Suryani. Mereka berebutan untuk mendapat makanan gratis dari bundanya yang divonis 5 tahun penjara itu. "Bagi dong...bagi dong...," teriak pendukung Artalyta sambil dorong-dorongan di halaman pengadilan. 

Menurut pengamatan Kompas.com dari lantai satu Pengadilan Tipikor, satu kotak nasi, dapat diperebutkan oleh lima orang pendukung atau lebih. Satu orang mendekap kotak yang telah penyok itu dan yang lain menarik-nariknya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau