Usai Pemilu, Konferensi Internasional Kelautan Akan Digelar

Kompas.com - 29/07/2008, 18:18 WIB

JAKARTA, SELASA - Usai perhelatan akbar pemilihan umum 2009, World Ocean Conference (WOC) 2009 akan dijalankan, meski dikhawatirkan tidak dapat berjalan lancar. Hal itu ditepis oleh Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri RI (Deplu RI) Eddy Pratomo dalam press gathering di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (29/7).

"Ini pertama kalinya Indonesia menjadi inisiatif pertama yang mengagas penyelamatan dunia dengan melihat laut sebagai titik pijak dan orientasi," ujarnya. Dikatakan juga Staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Publik DKP Gellwyn Jusuf, laut adalah dua per tiga bagian dari permukaan bumi yang memiliki peranan penting dalam perubahan iklim dunia.

"Sejumlah ilmuwan menyebut laut adalah gudang karbon (carbon sink) yang terbukti lebih ampuh menyerap emisi gas. Terkait dengan wilayah kepulauan Indonesia, ada penelitian pulau-pulau kecil yang kita miliki bisa hilang bila pemanasan global semakin menjadi. Agenda ini juga akan digagas," tuturnya.

Ia menegaskan tidak ada maksud khusus dari pemerintah untuk penyelenggaraan konferensi tersebut selain untuk menitikberatkan pada permasalahan kelautan."Tidak ada itu isu menghabiskan jatah hutang pemerintah sekarang atau apa, karena pendanaan kita juga mendapat hibah sekitar US $ 200 juta dari beberapa negara yang mendukung.," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau