Perbatasan RI-PNG Rentan Penyebaran HIV/AIDS

Kompas.com - 30/07/2008, 15:19 WIB

TANAH MERAH, RABU - HIV/AIDS  mengancam kehidupan masyarakat Kabupaten Boven Digoel, Papua, yang terletak di wilayah perbatasan Republik Indonesia (RI) dengan Papua Nugini (PNG). Sebagai wilayah perbatasan dengan tingkat mobilitas penduduk yang tinggi, masyarakat di Boven Digoel sangat rentan akan penyebaran HIV/AIDS, sehingga komponen masyarakat baik tingkat nasional maupun internasional harus memberi perhatian serius pada problem kemanusiaan ini.

"Sebagai sebuah wilayah perbatasan dengan tingkat mobilitas penduduk antarnegara yang tinggi, masyarakat yang bermukim di wilayah ini kini terancam punah akibat penyebaran HIV/AIDS yang signifikan," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, Titus Tambaip, M.Kes di Tanah Merah, Rabu (30/7).

Dia mengatakan, hampir setiap hari masyarakat di perbatasan RI-PNG saling melintas batas untuk berbagai urusan, baik urusan adat karena mereka memiliki pertalian kekerabatan juga urusan perdagangan jual-beli kebutuhan sehari-hari dan hasil bumi serta urusan pertanian dan perkebunan.
    
Mobilitas masyarakat yang melintasi perbatasan ini disertai penyebaran HIV/AIDS semakin hari semakin tinggi, selain karena tingkat pendidikan masyarakat masih sangat rendah sehingga kurang memahami secara baik persoalan hidup bersih dan sehat juga karena keterbatasan informasi mengenai penyakit yang mematikan itu.

HIV/AIDS justru menyebar sangat luas dan cepat di wilayah perkampungan terpencil dan terisolasi di sepanjang tapal batas kedua negara ini karena masyarakat setempat sangat kurang, malahan samasekali tidak mendapatkan informasi yang jelas dan komprehensif tentang penyakit itu.

Bersamaan dengan itu, masyarakat pun belum terbiasa dengan pola hidup bersih dan sehat. Selain tersebar di wilayah perbatasan RI dengan PNG, HIV/AIDS pun menyebar di wilayah perusahaan pengolahan kayu dan perkebunan kelapa sawit.

"Di lokasi perusahaan kayu dan perkebunan kelapa sawit yang dikelola PT Korindo, terdapat banyak sekali karyawan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Di dalam situasi kehidupan yang jauh dari keramaian dan hiburan kota serta jauh dari keluarga, maka tidak tertutup kemungkinan terjadi transaksi seks bebas yang berujung pada terjangkitnya penyakit HIV/AIDS di daerah ini," katanya.

Di dalam situasi yang serba sulit ini, lanjut Titus Tambaip, pemerintah Kabupaten Boven Digoel terus berupaya dengan kemampuan yang ada untuk mengatasi persoalan kemanusiaan ini namun patut diakui bahwa pemerintah  masih mengalami keterbatasan dana sosialisasi bahaya HIV/AIDS, keterbatasan tenaga medis dan belum tersentuhnya kegiatan penyuluhan HIV/AIDS oleh LSM peduli masalah kemanusiaan ini.

"Kalau kita teliti secara baik maka dapat kita katakana bahwa belum ada LSM peduli AIDS yang masuk sampai ke wilayah  tapal batas RI dengan PNG khususnya di Kabupaten Boven Digoel untuk membantu menangani bahaya HIV/AIDS," katanya.

Selain HIV/AIDS, dua penyakit lain yang juga menjadi ancaman kehidupan masyarakat Boven Digoel  yang jumlah pengidapnya semakin banyak adalah malaria dan penyakit kaki gajah (Filariasis).

Di Kabupaten Boven Digoel sendiri terdapat 15 Puskesmas dan satu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dengan 20 dokter umum dan lima dokter gigi. Jumlah kasus HIV-AIDS di Provinsi Papua  tercatat terus meningkat.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Papua Triwulan III, per 30 September 2007 melaporkan jumlah 3.434 kasus. HIV sebanyak 1.964 kasus dan AIDS 1.470 kasus. Sebanyak 322 atau 9,38% sudah meninggal.

Satu hal yang mengkhawatirkan adalah kasus HIV-AIDS terbanyak justru pada kelompok usia produktif (15-39 tahun) yaitu usia yang seksual aktif sekitar 78,8 persen. Kasus HIV-AIDS tertinggi terdapat pada kelompok umur 20-29 tahun sebanyak 1.548 kasus, kelompok umur 30-39 tahun 884 kasus dan kelompok umur 39-49 tahun 285 kasus. Fakta ini memiliki korelasi kuat ancaman masa depan bagi Papua.

Epidemi HIV-AIDS di Tanah Papua sesungguhnya menyebar pada populasi umum (generalized epidemic). Apalagi, lebih dari 90 persen penyebarannya terjadi hubungan seks tidak aman. Kondom selama ini diyakini merupakan alat ampuh menghambat penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV. Meskipun demikian, ternyata tingkat penggunaan kondom di Indonesia termasuk di Tanah Papua masih dinilai sangat minim.

Rendahnya tingkat penggunaan kondom antara lain karena lingkungan sosial yang kurang mendukung penggunaan kondom sehingga stigma terhadap kondom tak kunjung hilang.  Pengetahuan masyarakat tentang fungsi dan manfaat kondom pun masih kurang, serta rendahnya kesadaran akan pentingnya penggunaan kondom bagi kesehatan pribadi dan pasangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau