SMS Mesra Ryan Banjiri Ponsel Antonius

Kompas.com - 31/07/2008, 09:39 WIB

NGANJUK, KAMIS - Besar kemungkinan, Fauzin Suyanto, alias Antonius, 29, warga Jalan MT Haryono, Kelurahan Ploso, Kecamatan-Kabupaten Nganjuk, adalah korban baru Very Idham Henyansyah alias Ryan. Dugaan ini kian mendekati kenyataan saat melihat banyak pesan singkat mesra dari Ryan yang tersimpan di ponsel Antonius.

“Saya yang ikut membaca SMS dari Ryan itu jadi terhanyut. Kalimatnya puitis. Pokoknya isi SMS-nya sangat indah seperti halnya kalau kita sedang saling kasmaran,” ujar Fitri Sumayah (28), sahabat sekaligus tempat curhat Antonius saat ditemui Surya, Senin (28/7).

Namun, Fitri tidak bisa memastikan apakah Ryan yang dimaksud itu adalah Ryan yang sekarang menjadi sorotan orang se-Indonesia itu. Pemilik persewaan komputer ini hanya memastikan bahwa Yanto, panggilan akrab Antonius, yang dikenalnya penyuka sejenis.

Di komunitas ini Yanto akrab dengan panggilan Antonius. Fitri memperkirakan bahwa sahabat akrabnya itu setahun terakhir ini baru masuk komunitas gay. Setiap Rabu atau Sabtu Antonius berangkat ke Puhsarang, Kediri, bertemu sesama komunitas ini. “Yanto biasa pergi dari rumah saya menunggu jemputan temannya,” tutur Fitri.

Polisi sebelumnya juga memastikan bahwa Ryan juga kerap ke tempat ini. Bahkan, para korban, termasuk yang bule, juga kerap mengadakan pertemuan di Puhsarang.

Biasanya, Antonius yang tercatat sebagai pegawai tidak tetap di BPN Nganjuk pergi ke Puhsarang bersama Yudi, teman sekantornya. Namun, Yudi ke Puhsarang untuk beribadah di Gereja Puhsarang. Sementara itu, Antonius bertemu sesama gay.

“Saya tidak tahu persis tempat Puhsarang itu seperti apa. Tapi, dari cerita-cerita Yanto, yang berkumpul di tempat itu orang gagah-gagah,” ujarnya yang merupakan teman sekelas Antonius saat masih sama-sama kuliah di Jurusan Bahasa Inggris STKIP PGRI Nganjuk.

Sementara itu, keluarga Antonius saat ditemui Surya di rumahnya di Kelurahan Ploso terlihat pasrah. Antonius sudah hilang sejak 21 September 2007. Setelah mengetahui bahwa Antonius termasuk bagian dari komunitas gay, keluarga merelakan.

“Kami hanya bisa pasrah sambil berdoa mudah-mudahan Yanto tidak termasuk korban Ryan. Membayangkan saja kami sudah ngeri. Sehari semalam saya tidak bisa makan dan tidur saat diduga Yanto korban Ryan,” ucap Sudarsih, kakak perempuan Antonius sembari menyeka kelopak matanya yang basah.

Menurut Sudarsih, petemuan terakhir dengan Antonius saat bulan Ramadan (Jumat, 21 September 2007). Seusai berbuka puasa, Antonius yang memiliki motor baru pamit hendak pergi tanpa menjelaskan tujuannya. Belakangan diketahui Antonius berpamit kepada Fitri pergi ke Kediri.

“Yanto itu anaknya rajin dan pandai. Anaknya selalu penurut dan hemat. Karena ingin punya motor, ia langsung minta izin gajinya untuk mengangsur motor,” kata Trinem, ibu Antonius, sambil menunjukkan tulisan nopol Supra Fit milik anaknya, AG 2426 UM.

Antonius adalah putra kesayangan pasangan almarhum Tumiran (65) dan Trinem (61) meski sebenarnya Antonius adalah anak adopsi dari saudaranya. Sejak usia tujuh bulan Antonius dibesarkan keluarga Tumiran. Sejak kecil memang bawaannya manja dan cenderung seperti perempuan. (K2)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau