Keracunan Massal, Polisi Ambil Sampel Makanan

Kompas.com - 05/08/2008, 11:58 WIB

MALANG, SELASA - Menyusul keracunan massal yang dialami buruh pabrik rokok PT Cakra Guna Cipta, Kepolisian Sektor Pakisaji, Selasa (5/8) mengambil sampel sisa nasi kotak yang dimakan sekitar 400-an buruh pabrik itu.

Nasi kotak tersebut diduga sebagai penyebab keracunan massal yang menimpa karyawan pabrik rokok tersebut. "Kepolisian mengambil sampel sisa nasi kotak dan muntahan dari buruh, untuk kemudian kita uji di rumah sakit. Kalau ada keterangan resmi dari dokter, kami baru bisa mengambil tindakan lebih lanjut termasuk menetapkan tersangka," tutur Kapolsek Pakisaji, AKP Farid Fathoni, Selasa di Malang, Jawa Timur.

Menurut Fathoni, kejadian bermula dari dibagikannya nasi kotak oleh pihak pabrik sebagai peringatan HUT pabrik ke-24. Sebanyak 1000 nasi kotak dengan boks warna merah dipesan di katering Linda dan dibagikan ke PT Cakra I. Sedangkan 400 kotak lainnya dipesan di katering abadi dan dibagikan di PT Cakra 2 yang berjarak 500 meter dari Cakra I.

"Dari hasil penyelidikan sementara, diketahui yang keracunan adalah buruh di Cakra II yang kala itu menerima nasi kotak dengan boks warna putih," ujar Fathoni. Saat ini penyelidikan terus dilakukan oleh pihak kepolisian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau