Persoalan Orangtua Ryan Selepas dari Polres Jombang

Kompas.com - 11/08/2008, 06:41 WIB

JOMBANG, SENIN - Akhmad Sadikun dan Kasiyatun, orangtua Very Idam Henyansah alias Ryan (30), Sabtu (9/8) siang, akhirnya dipulangkan ke Jombang setelah beberapa hari diboyong dan diperiksa di Polda Jatim. Polisi memulangkan mereka karena belum ditemukan bukti keterlibatan mereka dalam aksi pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan. Karena alasan yang sama, polisi juga memulangkan Mulyo Wasis, kakak tiri Ryan.

Namun, kepulangan Sadikun dan Kasiyatun memicu persoalan baru. Polres Jombang harus menyembunyikan mereka karena pasangan suami istri asal Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang itu, terancam keselamatannya.

“Untuk menjamin keselamatan dan keamanan, kami tempatkan mereka di tempat yang aman,” kata AKBP Mohammat Khosim, Kapolres Jombang, Sabtu.

Menurut Kapolres, Sadikun dan Kasiyatun harus diamankan di tempat tersembunyi karena sangat dimungkinkan kerabat para korban maupun masyarakat melakukan balas dendam terhadap mereka, mengingat kekejaman Ryan terhadap ke-11 korbannya.

Selain menjamin keselamatan, hal itu juga untuk memudahkan polisi jika sewaktu-waktu membutuhkan keterangan mereka. Kapolres enggan membeberkan lokasi tersebut. “Pokoknya di tempat yang paling aman,” kilahnya.

Keponakan Kasiyatun, Didit Lukfiyanto, yang rumahnya persis di sebelah kanan rumah Kasiyatun, ketika dihubungi Sabtu sore mengaku belum melihat Akhmad, Kasiyatun, dan Mulyo Wasis di Jatiwates.

Orangtua dan kakak tiri Ryan dipulangkan penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Polda Jatim pukul 12.10 WIB menggunakan Daihatsu Xenia Silver L 2465 YM dengan kawalan empat petugas berpakaian preman.

Kasiyatun tampak berurai air mata. Ia tidak lagi menutupi wajahnya saat bertemu dengan wartawan. Bahkan, ia menyalami beberapa wartawan yang berpapasan dengannya. Satu per satu petugas kepolisian yang ada di sekitar pintu keluar itu juga disalaminya.

Direskrim Polda Jatim Kombes Pol Drs Rusli Nasution menuturkan, penyidik belum menetapkan orangtua Ryan sebagai tersangka. “Kami belum menemukan bukti keterlibatan orangtua Ryan,” tutur Rusli Nasution.

Sementara itu, Kasat Pidum Ditreskrim Polda Jatim AKBP Susanto mengatakan, penyidik sudah memeriksa 40 saksi. “Kami terus mendalami perkara ini,” ujarnya.

Perwira berkepala plontos ini akan berkoordinasi dengan penyidik Polda Metro Jaya setelah Ryan mengaku bahwa masih ada satu korban lagi yang dikubur, tapi tersangka lupa lokasinya. “Secepatnya kami kirim anggota ke sana (Jakarta) untuk mencari tahu soal itu,” ungkapnya.

Terkait kemungkinan masih ada satu mayat lagi yang dikubur, Kapolres Jombang AKBP Mohammat Khosim juga mengakui kemungkinan itu. Apalagi selama ini ada beberapa laporan orang hilang yang diduga terkait dengan Ryan. Selain itu, lanjutnya, dalam penggalian pertama dan kedua, 21 Juli dan 28 Juli, Ryan selalu membohongi petugas.

“Pada penggalian pertama, dia mengaku ada satu mayat. Karena ketahuan, kemudian dia mengaku ada empat. Dan saat itu empat mayat berhasil kita evakuasi,” kata Khosim. Kemudian pada penggalian kedua, kata Khosim, mula-mula Ryan mengaku ada empat mayat dan menunjukkan titik-titik penguburannya. Tapi setelah titik-titik itu digali ternyata ada lima mayat. “Dan, setelah ditanya lagi ternyata masih ada satu lagi sehingga jumlah yang ditemukan enam mayat,” jelas Khosim.

Apakah pihaknya akan melakukan penggalian lagi, Khosim menyatakan akan menunggu penyelidikan dari Polda Metro Jaya dan Polda Jatim. “Kalau mereka bilang gali kita akan menggalinya,” imbuh mantan Kapolres Bangkalan ini.

Sementara itu, diperoleh informasi dari Kepala Desa Jatiwates Mahmud, pengakuan terbaru Ryan tentang adanya satu korban lagi yang dikubur di areal rumah orangtuanya sangat mungkin benar.

Sebab, kata Mahmud, seorang penjual ayam pernah melihat lubang sedalam satu meter, panjang 1,75 meter, dan lebar satu meter di areal rumah Akhmad pada Oktober 2007. “Saat itu si penjual ayam sedang melayani Kasiyatun berbelanja ayam,” kata Mahmud.

Berdasarkan cerita dari pedagang ayam tadi, kata Mahmud, lubang tersebut saat itu kosong dan berada persis di sebelah selatan kandang ayam, tak jauh dari lubang tempat ditemukannya mayat Muhammad Akhsoni, warga Desa Slawe, Kecamatan Tarik, Sidoarjo. (ST8/MIF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau