Tak Kenal Maka Tak Wayang

Kompas.com - 12/08/2008, 03:40 WIB

JAKARTA, SENIN - Maraknya komik superhero asing yang masuk ke Indonesia membuat generasi muda semakin meninggalkan kisah-kisah kearifan lokal nusantara, seperti wayang. Bahkan, anak-anak yang tinggal di daerah pun belum tentu mengetahui cerita perwayangan Indonesia yang penuh dengan pesan moral.

Hal ini disampaikan oleh pendiri Wayang Community Sudarmawan Juwono saat acara Wayang Goes to Mall, Senin (11/8) di Plaza Semanggi, Jakarta. Acara yang berlangsung dari 11-18 Agustus 2008 ini merupakan kerja sama antara Wayang Community dengan manajemen Plaza Semanggi.

"Wayang Community memang ingin memperkenalkan budaya wayang kepada anak muda melalui pendekatan populer," jawab Sudarmawan ketika Kompas.com bertanya mengapa pegelaran wayang tersebut berlangsung di pusat perbelanjaan. Selain itu, Wayang Community akan melakukan terobosan dengan memperkenalkan wayang melalui komik dan ensiklopedia anak.

Menurut Sudar, seseorang dapat menyampaikan pesan moral melalui komik. "Kami juga akan mengadakan diskusi-diskusi populer untuk mencari cara bagaimana membuat cerirta wayang dapat dicerna oleh generasi muda," katanya.

Sudar sendiri sangat optimis terobosan tersebut dapat menarik perhatian kaum muda. "Coba kita lihat Tin-Tin. Walaupun ceritanya komiknya hanya beberapa edisi, tapi pendukung fanatiknya luar biasa. Begitu juga Harry Potter," jelasnya.

Bukan Hitam Putih

Bagi Sudar, wayang menceritakan sisi-sisi kemanusiaan sang tokoh. Baginya, pandawa bukanlah tokoh yang selalu sempurna tanpa cela. Begitu juga kurawa bukan tokoh yang selalu jahat dan bengis. "Masing-masing memiliki sisi baik dan buruknya," katanya bijak.

Sudar mencontohkan salah satu raja Kurawa yang bernama Adipati Karna. "Walaupun ia dan kurawa lain sering menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan, tapi Adipati Karna sangat setia dan mencintai negaranya, Astina," kata Sudar.

Sebaliknya, walaupun pandawa selalu membela kebenaran, mereka terlalu bangga dengan asal-usulnya. "Suatu hari, pada saat Rahmana dan Durna sedang berlatih memanah, datanglah seorang anak sais kuda yang ingin belajar memanah juga. Namun, mereka tidak mengijinkannya karena, menurut mereka, yang boleh belajar hanyalah anak-anak ksatria," jelasnya.

Di akhir perbincangan dengan Kompas.com, Sudar berpesan kepada kaum muda agar selalu mengenali budaya dan kearifan lokal Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau