JAKARTA, SENIN - Maraknya komik superhero asing yang masuk ke Indonesia membuat generasi muda semakin meninggalkan kisah-kisah kearifan lokal nusantara, seperti wayang. Bahkan, anak-anak yang tinggal di daerah pun belum tentu mengetahui cerita perwayangan Indonesia yang penuh dengan pesan moral.
Hal ini disampaikan oleh pendiri Wayang Community Sudarmawan Juwono saat acara Wayang Goes to Mall, Senin (11/8) di Plaza Semanggi, Jakarta. Acara yang berlangsung dari 11-18 Agustus 2008 ini merupakan kerja sama antara Wayang Community dengan manajemen Plaza Semanggi.
"Wayang Community memang ingin memperkenalkan budaya wayang kepada anak muda melalui pendekatan populer," jawab Sudarmawan ketika Kompas.com bertanya mengapa pegelaran wayang tersebut berlangsung di pusat perbelanjaan. Selain itu, Wayang Community akan melakukan terobosan dengan memperkenalkan wayang melalui komik dan ensiklopedia anak.
Menurut Sudar, seseorang dapat menyampaikan pesan moral melalui komik. "Kami juga akan mengadakan diskusi-diskusi populer untuk mencari cara bagaimana membuat cerirta wayang dapat dicerna oleh generasi muda," katanya.
Sudar sendiri sangat optimis terobosan tersebut dapat menarik perhatian kaum muda. "Coba kita lihat Tin-Tin. Walaupun ceritanya komiknya hanya beberapa edisi, tapi pendukung fanatiknya luar biasa. Begitu juga Harry Potter," jelasnya.
Bukan Hitam Putih
Bagi Sudar, wayang menceritakan sisi-sisi kemanusiaan sang tokoh. Baginya, pandawa bukanlah tokoh yang selalu sempurna tanpa cela. Begitu juga kurawa bukan tokoh yang selalu jahat dan bengis. "Masing-masing memiliki sisi baik dan buruknya," katanya bijak.
Sudar mencontohkan salah satu raja Kurawa yang bernama Adipati Karna. "Walaupun ia dan kurawa lain sering menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan, tapi Adipati Karna sangat setia dan mencintai negaranya, Astina," kata Sudar.
Sebaliknya, walaupun pandawa selalu membela kebenaran, mereka terlalu bangga dengan asal-usulnya. "Suatu hari, pada saat Rahmana dan Durna sedang berlatih memanah, datanglah seorang anak sais kuda yang ingin belajar memanah juga. Namun, mereka tidak mengijinkannya karena, menurut mereka, yang boleh belajar hanyalah anak-anak ksatria," jelasnya.
Di akhir perbincangan dengan Kompas.com, Sudar berpesan kepada kaum muda agar selalu mengenali budaya dan kearifan lokal Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang