Thaksin Jadi Buron

Kompas.com - 12/08/2008, 09:12 WIB

BANGKOK, SELASA — Perdana Menteri Thailand tergusur, Thaksin Shinawatra dan istrinya ditetapkan sebagai buronan setelah tidak muncul dalam sidang korupsi yang didakwakan kepada mereka. Mahkamah Agung Thailand, Senin (11/8), langsung mengeluarkan surat perintah penangkapan, dan uang jaminan yang telah diberikan Thaksin langsung disita negara.

Thaksin bersama istrinya, Pojaman, didakwa terlibat dalam sebuah transaksi real estat secara melawan hukum ketika dia berkuasa. Thaksin membayar uang jaminan 8 juta baht (sekitar Rp 2,1 miliar) saat kembali ke Thailand.

”Pengadilan melihat bahwa para terdakwa telah melanggar syarat-syarat pembebasan mereka. Karena itu, kami mengeluarkan sebuah surat perintah penangkapan dan memerintahkan uang jaminan mereka untuk disita,” demikian putusan MA Thailand.

Kepada MA, Thaksin dalam pernyataan dengan tulisan tangan, yang difaksimile ke beberapa media massa dari tempat tinggalnya di London, menyampaikan permintaan maaf karena tidak muncul pada sidang kasus korupsi yang melibatkan dia dan istrinya.

”Saya harus meminta maaf lagi karena memutuskan untuk tinggal di Inggris. Jika saya cukup beruntung, saya akan kembali dan meninggal di tanah Thai, sama seperti banyak warga Thai lainnya,” ujarnya.

Akhiri rezim Thaksin

Dia memutuskan melarikan diri ketimbang berjuang melawan berbagai tuduhan korupsi yang diarahkan kepadanya sejak kudeta militer membantu penggulingannya. Kondisi ini mendorong pasar saham naik 3 persen karena muncul harapan akan mendinginnya suhu politik di negara itu setelah tiga tahun terus bergejolak.

”Pengasingan diri Thaksin adalah kemenangan lain bagi kami. Tetapi, tujuan utama kami adalah mengakhiri sepenuhnya rezim Thaksin, dengan menggusur pemerintahan bonekanya,” ungkap juru bicara Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD), Parnthep Pourpongan. PAD adalah kelompok kerabat kerajaan, pebisnis, dan kelas menengah Bangkok yang disatukan oleh kebencian terhadap Thaksin.

Thaksin mengatakan, keputusannya keluar dari Thailand kurang dari enam bulan setelah kembali dari pengasingan pascadigulingkan dilakukan karena lawan-lawannya memengaruhi sistem peradilan untuk menghabisi dia dan keluarganya.

”Mereka ini adalah lawan-lawan politik saya. Mereka tidak peduli dengan supremasi hukum, fakta, atau proses hukum yang diakui internasional,” ungkap tokoh yang populer di kalangan warga pedesaan itu.

Pojaman dijatuhi vonis tiga tahun penjara, bulan lalu, karena penggelapan pajak. Akan tetapi, Pojaman dibebaskan dengan jaminan terkait proses banding.

Thaksin dan istrinya pergi ke China dengan sejumlah besar koper. Keduanya diizinkan pergi ke China untuk menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Beijing hari Jumat pekan lalu dan direncanakan kembali ke Bangkok pada Minggu malam. Akan tetapi, diam-diam mereka menumpang sebuah pesawat ke London pada hari Sabtu. Thaksin kemungkinan akan segera meminta suaka di Inggris.

Pengamat menilai, kemungkinan karena istrinya terancam hukuman penjara itulah yang membuat Thaksin memutuskan pergi dari negerinya.

Kepergiannya itu, lanjut beberapa pengamat, bermakna dia tidak bisa kembali ke negerinya untuk jangka waktu yang lama. ”Dia telah dipermalukan pengadilan. Jadi, dia pergi demi kebaikannya sendiri,” kata penulis biografi Thaksin yang juga pengamat politik, Chris Baker.

Menurut perkiraan Baker, selama berada di Thailand, Thaksin telah menghabiskan banyak uang untuk keluar dari dakwaan yang menjeratnya. Namun semua itu gagal sehingga dia sangat marah.

Kritiknya terhadap peradilan Thailand kemungkinan akan menyulitkan peluangnya untuk mendapatkan kembali dana sebesar 2 miliar dollar AS di bank Thailand, yang dibekukan sejak dia dikudeta tahun 2006.

Dalam pernyataannya, Thaksin kembali menegaskan ketidakbersalahannya atas semua tuduhan yang diarahkan terhadap dia dan keluarganya. ”Apa yang terjadi dengan keluarga saya dan saya adalah seperti buah dari sebatang pohon beracun, di mana buahnya juga akan beracun. Ada keberlanjutan kediktatoran dalam mengelola politik Thailand,” paparnya. (OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau