Pembangunan Subway di Jakarta Mulai Awal 2009

Kompas.com - 13/08/2008, 14:24 WIB

JAKARTA, RABU — Untuk menanggulangi kemacetan yang terjadi di Ibu Kota, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap akan menaruh perhatian utama pada pembangunan sarana transportasi umum yang memadai. Salah satu cara yang bakal ditempuh adalah mengganti transportasi umum berbasis bus, dengan transportasi berbasis rel, misalnya kereta api bawah tanah (subway).

Menurut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, pengerjaan proyek subway akan dimulai tahun 2009. "Saya jadwalkan pengerjaan infrastruktur subway sudah dapat dimulai awal tahun 2009 atau pertengahan tahun 2009," ungkap Fauzi dalam acara Temu Wicara "Menuju Jakarta Sukses, Aman, dan Sejahtera" di Balai Kota, Jakarta, Rabu (13/8).

Menurut Fauzi, untuk mencapai proyeksi tersebut bukan perkara mudah. Dibutuhkan kerja sama dari seluruh masyarakat dan instansi terkait. "Pekerjaan tidak mudah sebab kereta api di luar kekuasaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tapi nantinya, kita akan terus melakukan koordinasi dan kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia untuk pengadaan transportasi massal berbasis rel di Jakarta," ungkapnya.

KA dipilih sebagai alternatif karena memiliki daya angkut penumpang yang jauh lebih besar dibandingkan bus. "Jadi, cara perhitungan akan menjadi lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar minyak dan juga mengurangi tingkat polusi di Ibu Kota yang semakin parah," terangnya.

Ia berharap, dengan beroperasinya subway juga akan menekan tingkat kemacetan yang terjadi di Jakarta. "Tahu sendiri kan sekarang harga minyak tinggi. Di samping itu persediaannya juga semakin menipis. Dengan adanya subway, masalah tersebut akan teratasi," ujar Fauzi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau