Pilah-Pilih Diet Ala Selebriti

Kompas.com - 13/08/2008, 16:54 WIB

Seperti halnya fashion, diet pun mengenal tren. Beberapa waktu lalu muncul istilah fad diet, atau diet populer yang dipopulerkan oleh beberapa selebritis Hollywood. Namun, apakah efektif? Bagaimana memilih diet yang tepat?

Termasuk dalam kategori fad diet ini di antaranya low carbohydrate diet atau dikenal dengan diet Atkins, diet zona, Macrobiolitik diet, the Cabbage soup diet, dan the south beach diet. Menurut ahli nutrisi dari klinik Nutrifit Jakarta, Dr. Samuel Oetoro, MS, jenis diet ini menjanjikan penurunan berat badan secara instan. Soal kebenaran, pembuktian ilmiah, keamanan dan penelitiannya, belum membuktikan diet ini baik dan aman. Biar tidak salah kaprah, ada baiknya Anda mengetahui lebih jelas soal diet jenis ini dan untung serta ruginya, serta diet yang dianggap ideal.

DIET ATKINS
Penganut diet ini: Catherine Zeta Jones, Gery Halliwel dan Jennifer Lopez.
Diet Atkins atau low carbohydrate diet diperkenalkan oleh seorang ahli nutrisi Amerika Serikat Dr. Robert Coleman Atkins, pada 1970. Pantangannya segala macam karbohidrat dalam bentuk apa pun, entah itu roti, keju, beras merah, kentang maupun mi dan nasi. Energi penggantinya didapat dari makanan yang kaya protein dan lemak, seperti daging, ikan, telur dan sebagainya.

Protein dan lemak akan membuat rasa kenyang lebih tahan lama sehingga pelaku diet tidak mudah lapar. Meski begitu, asupan lemak jadi berlebihan sehingga metabolisme tubuh tidak seimbang. Bagi perempuan, lemak yang berlebih ini umumnya disimpan di perut, paha dan pinggul. Hanya dalam enam bulan, penurunan bisa mencapai 10 kg!

Kelehamahan: Diet yang tinggi protein membuat ginjal bekerja ekstra keras untuk menyaring zat sisa makanan. Diet yang minim karbohidrat juga menyebabkan seseorang lesu dan kurang konsentrasi.
Penelitian yang diterbitkan New England Journal of Medicine dua tahun lalu sudah menyebutkan, jika diet Atkin dilakukan dalam jangka panjang bisa mengakibatkan gagal ginjal dan dapat memicu gangguan pada usus.

ZONE DIET
Penganut diet ini: Jennifer Aniston, Brad Pitt, Sandra Bullock, Matthew Perry dan Renee Zelweger
Diet jenis ini dibawa Dr. Barry Sears dalam bukunya Enter the Zone. Aturan diet ini mengatur ketat asupan karbohidrat, protein dan lemak tak jenuh yang masuk ke tubuh. Komposisinya sekitar 40%-30%-30%. Hasil yang dicapai, dalam seminggu berat badan bisa berkurang hingga 1,5 kg. Untuk menghitung komposisi menu, Dr. Barry Sears menyediakan layanan proporsional yang disusun sendiri olehnya.

Kelemahan: Konsumsi karbohidrat yang hanya 40% tidak cukup bagi individu yang terbilang aktif. Sehingga, pelaku diet akan mudah lelah. Selain itu, penghitungan komposisinya terbilang rumit, dan tak semua orang bisa. Ini menyebabkan timbulnya rasa cemas yang berlebihan akan komposisi makanan yang salah. Pasalnya, bila hitungannya salah, bisa merusak diet mereka. Menu-menu yang diatur secara ketat, juga membuat mereka makin mendambakan makanan sehingga akan terjadi over eating yang membuat berat badan naik lagi.

DIET MAKROBIOTIK
Penganut diet ini: Madonna, Gwyneth Paltrow dan Alicia Silverstone
Diet ini menggunakan metode holistik modern, antara pengaturan makanan dan ritual meditasi atau olahraga yoga. Pelaku diet ini sangat membatasi konsumsi terhadap produk susu, telur dan semua jenis makanan berlemak. Penggantinya kacang-kacangan, gandum, buah, sayuran yang dipadu dengan ikan-ikanan. Biasanya kecenderungan dari diet makrobiotik ini adalah vegetarian. Penurunan badannya sekitar 1 kg dalam seminggu.

Kelemahan: Minimnya jumlah kalsium yang diproduksi dari makanan selain susu menyebabkan pelaku diet ini rawan terkena osteoporosis. Selain itu, kalsium diperlukan untuk membantu mengatur detak jantung, mencegah penggumpalan darah, membantu transmisi saraf dan sebagainya. Banyak kalangan mengkritik diet ini karena pembatasan pemasukan zat gizi mengakibatkan si pelaku diet berlaku obsesif terhadap apa pun yang mereka makan.

THE CABBAGE SOUP DIET
Penganut diet ini: Liz Hurley dan Sarah Michelle Gellar
Metode diet ini mewajibkan pelakunya mengonsumsi sup kubis selama tujuh hari. Resepnya bisa bervariasi, tapi sayur-sayuran jenis kubis, bawang serta tomat harus ada dalam setiap menu. Nasi boleh dikonsumsi. Diet jenis ini memusuhi semua produk gula, susu, lemak, dan semua makanan yang digoreng.

Kelemahan: Tubuh kurang mendapat vitamin dan mineral. Dampaknya, pendiet akan merasa lemas, tidak bergairah, sering diserang mual dan pusing. Jika terus berlanjut kemungkinan akan bermasalah pada ginjal, bahkan akan terserang osteoporosis dini. Menurut Dr. Samuel, apa yang dikeluarkan dari penurunan drastis ini sebenarnya bukan lemak, tapi hanya cairan yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh. Jadi, berat badan mereka yang sudah turun sebenarnya tidak akan bisa bertahan lama. Kalaupun Anda ingin mengikuti diet ini, pastikan Anda menambah pasokan vitamin dan mineral dari suplemen.

THE SOUTH BEACH DIET
Penganut diet ini: Bill dan Hillary Clinton
Metode ini dikembangkan oleh dr. Arthur Agatston, seorang kardiolog dari South Beach, Miami, Florida, Amerika Serikat. Diet ini memberi kebebasan pada pelakunya untuk memilih makanan yang mereka sukai, hanya saja dianjurkan untuk memilih jenis karbohidrat dan lemak secara tepat. Ada tiga tahapan dalam program ini, penurunan berat badan secara cepat, lanjutan dan pemeliharaan.

Tahap pertama, pantangan terhadap karbohidrat yang buruk seperti kentang dan roti. Fase ini dijalani minimal dua minggu sampai satu bulan. Biasanya berat badan langsung turun antara 5-6 kilogram. Tahap kedua, penurunan badan dilakukan secara perlahan sekitar 0,5-1 kg/minggu. Pada tahap ini, makanan yang mengandung karbohidrat, seperti biji-bijian, beras tumbuk atau kacang-kacangan ditingkatkan porsinya. Pantangannya, roti, kentang, wortel, semangka dan nanas. Tahap selanjutnya bertujuan menjaga berat badan yang telah dicapai. Pantangannya hanya menghindari snack. Sedangkan buah-buahan lain, seperti apel, pir, jeruk dan sebagainya, diperbolehkan.

Kelemahan: Diet ini sangat cocok untuk penderita diabetes dan obesitas. Karena landasan ilmiah yang dipakai adalah konsep indeks glikemik (GI), yaitu kecepatan pangan menaikkan kadar gula (glukosa) darah, setelah mengonsumsinya. Makanan yang IG-nya tinggi, mengakibatkan gula darah cepat naik, sehingga menghasilkan insulin berlebih. Selain itu, pantangan terhadap buah-buahan yang banyak mengandung vitamin seperti nanas dan semangka tidak disarankan. Bagi Anda yang tanpa keluhan diabetes dan berat yang ingin diturunkan hanya beberapa kilo saja, ada baiknya langsung mengikuti tahapan kedua dari diet ini.

DIET RENDAH KALORI SEIMBANG
Diet ini bukan termasuk fad diet, tapi dianggap ideal karena metodenya melakukan pendekatan terpadu antara pengaturan makan, olahraga dan berpikir positif sehingga penurunan berat badan berhasil dan bisa dipertahankan dalam jangka panjang. Dr. Samuel menambahkan, program penurunan berat badan yang sehat berarti menghilangkan lemak dan membentuk otot jauh lebih padat pada tubuh.

Dalam setiap porsi makan, mencakup 50% karbohidrat (nasi, mi, kentang, dll), 20% protein (ikan, ayam, tempe, tahu, telur) dan 30% lemak (ikan, alpukat, dll), ditambah vitamin dan mineral (buah dan sayur). Selain pengaturan pola makan, juga disarankan olahraga atau aktivitas fisik yang cukup. Sehingga, nantinya yang keluar dari tubuh benar-benar lemak, bukan cairan. Dengan diet seimbang ini, pelaku diet tidak akan tersiksa karena kebutuhan gizi tetap terpenuhi.

Kelemahan: Diet ini relatif butuh waktu. Penurunan berat badan tidak drastis, karena hanya 5-10% dari berat tubuh dalam jangka waktu 3-6 bulan. Meski butuh proses tapi hasilnya lebih tahan lama dibanding fad diet.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau