MOSKOW, JUMAT - Niat Rusia mencaplok dua provinsi pembangkang Ossetia Selatan dan Abkhazia dan akan 'menyedot' kedua wilayah itu sebagai bagian dari Rusia.
Indikasi ini disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Kamis (14/8) atau Jumat (15/8) waktu Indonesia, yang minta Georgia melupakan saja upaya mendapatkan kembali kedua wilayah yang menyempal itu. Alih-alih menarik mundur, Rusia malah mengarahkan militernya ke kota terbesar ketiga di Georgia., Kutaisi.
Dari Moskow dilaporkan Presiden Rusia Dmitry Medvedev bertemu dengan sejumlah pemimpin Ossetia Selatan dan Abkhazia di Kremlin. Ini merupakan indikasi bahwa Rusia akan mencaplok kedua wilayah itu meski secara internasional diakui sebagai bagian dari Georgia.
Lavrov mengeluarkan pernyataan keras dan terus terang terhadap Georgia dan dunia yang tampaknya untuk menjawab tuntutan Presiden AS George W Bush sehari sebelumnya agar Rusia menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Georgia.
"Orang bisa melupakan semua pembicaraan tentang integritas teritorial Georgia, karena, saya yakin, tidak mungkin membujuk Ossetia Selatan dan Abkhazia untuk menyetujui logika bahwa mereka bisa dipaksa kembali ke negara Georgia," kata Lavrov.
Gedung Putih menanggapi dingin pernyatan Lavrov itu dan menyatakan tidak mengubah posisinya membela Georgia. Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengatakan Rusia telah 'melukai' hubungannya dengan AS hingga beberapa tahun ke depan. Namun ia mengatakan AS belum melihat kemungkinan mengirim pasukan ke Georgia.
Ketika pertempuran militer dan diplomatik sedang memanas, sejumlah pesawat kargo menggelontor Tbilisi dengan bantuan bahan makanan. Bantuan itu untuk sekitar 100.000 orang yang terpaksa mengungsi akibat krisis itu.
Pemerintah AS mengatakan telah mengirimkan dua pesawat yang membawa tempat tidur lipat, selimut, obat dan peralatan bedah. Namun Rusia menuduh AS mungkin juga mengirimkan bantuan militer. Ini jelas dibantah AS.
Sementara itu, pemerintah Georgia mengatakan militer Rusia sudah bergerak ke arah Kutaisi, kota terbesar ketiga di Georgia. Namun, mereka berhenti sekitar 65 kilometer sebelum masuk kota itu. "Kami tidak tahu sedang apa mereka di sana, mengapa bergerak dan menuju ke mana. Mungkin mereka ingin menggertak penduduk sipil," kata PM Georgia Lado Gurgenidze.
AS mengatakan gerakan Rusia menuju Kutaisi itu bisa menjadi kekhawatiran besar. Namun dua pejabat pertahanan AS mengatakan, Pentagon tidak mendeteksi adanya gerakan masif pasukan atau tank Rusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang