SIANG itu, terik matahari terasa menusuk kulit. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat pencari plastik dan kaleng bekas menjalankan aktivitasnya. Meski jauh dari pagar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Parit VI Semabung Pangkalpinang, aroma tak sedap menemami telah menemani pencari rezeki di TPA ini.
Tak jauh dari pintu masuk, tampak seorang nenek yang asyik mengangkut karung berisi sampah. Perempuan berumur kurang lebih 60 tahun itu, tampak sehat dan kuat kala mengangkat sampah yang beratnya kurang lebih 10 kg ini.
"Lagi sibuk nek," sapa wartawan harian ini. Kemudian dengan senyumnya sang nenek menjawab. "Biasalah, nak," jawab Kurnia yang dipanggil Nenek Rini nama perempuan tersebut.
Dengan hanya menggunakan kaos oblong berwarna hitam, dan celana pendek coklat, nenek Rini menjalankan aktivitasnya. Dia membongkar tumpukan sampah yang terhampar. Jika menemukan plastik botol air mineral dnean cekatan diamsukkan dalam keranjang. Lalu tumpukanlainya dibongkar lagi.
Sesekali, nek Rini mengusap keringat yang membasahi wajahnya dengan baju kaos yang dikenakannya. Kemudian tangannya terus membongkar tumpukan sampah Wanita beranak delapan anak ini mengaku menjadi pengumpul plastik sejak delapan tahun yang lalu.
"Aku cuma bisa bekerja ini saja (sambil menunjuk keranjang sampah). Untuk makan keluarga," paparnya.
Bagaimana makna kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus, sang nenek seperti tidak menghiraukan hal tersebut. Bahkan, nenek yang menggunakan topi bulat yang melingkar di kepalanya, hanya tertawa seolah tidak memperdulikan perayaan hari kemerdekaan. .
"Kalau kami, seperti inilah, negara merdeka tapi kami tidak jadi lebih baik. Masih mengumpul sampah," ungkap Kurnia seraya menundukkan kepalanya.
Usai berbincang dengan sang nenek, pandangan kami tertuju pada anak-anak yang berlarian di antara tumpukan sampah. Meski aroma tidak sedap mereka tidak menghiraukan. Bahkan mereka terlihat akrab dengan kumpulan sampah tersebut. Sehingga tidak jarang, terlihat mereka bergulingguling di atas tumpukan sampah tersebut. Mungkin saja, usia seumuran mereka melewati masa bahagia itu di tempat yang lebih layak di taman bermain sambil belajar.
Anak itu adalah Ucil (3), Rudi (2.5), dan Jumadi (3). Mereka yang mengikuti orang tuanya bekerja mengumpulkan plastik dan sampah yang berserakan tersebut. Bila beruntung mereka bisa menemukan bekas mainan atau apa pun bisa jadi mainan mengasyikan bagi mereka.
Lain lagi dengan Busiro (42) pekerja harian lepas (PHL) Dinas Kebersihan kota Pangkalpinang ini mengaku belum merasakan kemerdekaan yang sebenarnya. Menurutnya, dirinya telah bergumul dengan sampah kurang lebih dua tahun lamanya masih sangat menyesalkan akan kondisi negara saat ini.
"Aku tahu kalau kita merdeka, tapi kami masih seperti terkurung dalam kehidupan yang mengekang," papar Busiro.
Busiro yang bekerja menuangkan sampah di TPA ini mengaku prihatin karena masih banyak anak-anak di bawah umur yang berkeliaran di TPA. Artinya mereka secara tidak langsung masih belum merdeka.
"Yang ku harap pemerintah lebih fokus memperhatikan kami," tukas Busiro seraya mengais cakar sampah untuk menurunkan sampah dari bak motornya.
Kini, timbul pertanyaan sebenarnya apa makna kemerdekaan Republik Indonesia yang ke63 ini bagi rakyat kecil? ( Edhie Yusmanto)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang