Merdeka, Tapi Kami Masih Memungut Sampah

Kompas.com - 17/08/2008, 06:11 WIB

SIANG itu, terik matahari terasa menusuk kulit. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat pencari plastik dan kaleng bekas menjalankan aktivitasnya. Meski jauh dari pagar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Parit VI Semabung Pangkalpinang, aroma tak sedap menemami telah menemani pencari rezeki di TPA ini.

Tak jauh dari pintu masuk, tampak seorang nenek yang asyik mengangkut karung berisi sampah. Perempuan berumur kurang lebih 60 tahun itu, tampak sehat dan kuat kala mengangkat sampah yang beratnya kurang lebih 10 kg ini.

"Lagi sibuk nek," sapa wartawan harian ini. Kemudian dengan senyumnya sang nenek menjawab. "Biasalah, nak," jawab Kurnia yang dipanggil Nenek Rini nama perempuan tersebut.

Dengan hanya menggunakan kaos oblong berwarna hitam, dan celana pendek coklat, nenek Rini  menjalankan aktivitasnya. Dia membongkar tumpukan sampah yang terhampar. Jika menemukan plastik botol air mineral dnean cekatan diamsukkan dalam keranjang. Lalu tumpukanlainya dibongkar lagi.

Sesekali, nek Rini mengusap keringat yang membasahi wajahnya dengan baju kaos yang dikenakannya. Kemudian tangannya terus membongkar tumpukan sampah Wanita beranak delapan anak ini mengaku menjadi pengumpul plastik sejak delapan tahun yang lalu.

"Aku cuma bisa bekerja ini saja (sambil menunjuk keranjang sampah). Untuk makan keluarga," paparnya.

Bagaimana  makna kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus, sang nenek seperti tidak menghiraukan hal tersebut. Bahkan, nenek yang menggunakan topi bulat yang melingkar di kepalanya, hanya tertawa seolah tidak memperdulikan perayaan hari kemerdekaan. .

"Kalau kami, seperti inilah, negara merdeka tapi kami tidak jadi lebih baik. Masih mengumpul sampah," ungkap Kurnia seraya menundukkan kepalanya.

Usai berbincang dengan sang nenek, pandangan kami tertuju pada anak-anak yang berlarian di antara tumpukan sampah. Meski aroma tidak sedap mereka tidak menghiraukan. Bahkan mereka terlihat akrab dengan kumpulan sampah tersebut. Sehingga tidak jarang, terlihat mereka bergulingguling di atas tumpukan sampah tersebut. Mungkin saja, usia seumuran mereka melewati masa bahagia itu di tempat yang lebih layak di taman bermain sambil belajar.

Anak itu adalah Ucil (3), Rudi (2.5), dan Jumadi (3). Mereka yang mengikuti orang tuanya bekerja mengumpulkan plastik dan sampah yang berserakan tersebut. Bila beruntung mereka bisa menemukan bekas mainan atau apa pun bisa jadi mainan mengasyikan bagi mereka.

Lain lagi dengan Busiro (42) pekerja harian lepas (PHL) Dinas Kebersihan kota Pangkalpinang ini mengaku belum merasakan kemerdekaan yang sebenarnya. Menurutnya, dirinya telah bergumul dengan sampah kurang lebih dua tahun lamanya masih sangat menyesalkan akan kondisi negara saat ini.

"Aku tahu kalau kita merdeka, tapi kami masih seperti terkurung dalam kehidupan yang mengekang," papar Busiro.

Busiro yang bekerja menuangkan sampah di TPA ini mengaku prihatin karena masih banyak anak-anak di bawah umur yang berkeliaran di TPA. Artinya mereka secara tidak langsung masih belum merdeka.

"Yang ku harap pemerintah lebih fokus memperhatikan kami," tukas Busiro seraya mengais cakar sampah untuk menurunkan sampah dari bak motornya.

Kini, timbul pertanyaan sebenarnya apa makna kemerdekaan Republik Indonesia yang ke63 ini bagi rakyat kecil? ( Edhie Yusmanto)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau