Anwar Ibrahim Mulai Berkampanye

Kompas.com - 18/08/2008, 06:23 WIB

PENANG, MINGGU - Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, meluncurkan kampanye pemilu sela, Minggu (17/8) di Permatang Pauh, Penang. Dalam kampanye itu, Anwar menuding pemerintah memainkan "taktik kotor" untuk menggagalkan upayanya terpilih menjadi anggota parlemen.

Kursi parlemen Permatang Pauh kosong setelah istri Anwar, Wan Azizah Wan Ismail, mengundurkan diri akhir Juli lalu. Pemilu sela dijadwalkan pada 26 Agustus.

Anwar diperkirakan akan meraih kemenangan mudah karena dia pernah menguasai kursi di Penang tahun 1982-1999 sebelum dipecat dari pemerintahan dan diadili karena tuduhan korupsi dan sodomi. Wan Azizah menggantikan Anwar menduduki kursi itu sejak tahun 1999 hingga sekarang.

Namun, Anwar mengatakan bahwa pemerintah mengeksploitasi ketegangan antar-ras di Malaysia dan mengipasi tuduhan sodomi guna mencegah dirinya menang mutlak dalam pemilu sela. "Ini adalah taktik kotor. Ini kampanye yang jahat oleh mereka yang benar-benar tidak bermoral," ujar Anwar.

Anwar mengungkapkan, koalisi berkuasa Barisan Nasional memainkan sentimen antara etnis Melayu yang mayoritas dan etnis India dan China yang minoritas dengan mengirim pesan singkat (SMS) kepada warga Melayu yang menyebut bahwa Anwar "agen China".

Ujian popularitas

Popularitas Anwar akan diuji dalam pemilu sela ini setelah mantan pembantunya, Mohamad Saiful Bukhari Azlan (23), melaporkan Anwar pernah menyodomi dia. Anwar membantah dan menyebut tuduhan itu bermotif politis.

"Saya katakan tidak ada kasus, mereka tidak bisa melanjutkan, laporan medis juga jelas. Jika sistem peradilan layak, hakim mana pun yang mendengar kasus ini akan menghentikannya," kata Anwar.

Menilik ribuan orang yang mengiringi Anwar ke pusat pendaftaran pada sehari sebelumnya, Anwar masih mendapat tempat di hati pendukungnya. "Kami tidak percaya tuduhan sodomi. Tidak ada bukti. Itu cerita lama yang sama untuk memfitnah Anwar," kata Khalil Abdul Rahman, seorang pengusaha di Penang.

Di pihak koalisi berkuasa Barisan Nasional, para menteri senior pemerintah, dipimpin Wakil Perdana Menteri Najib Razak, menggelar pertemuan di Permatang Pauh untuk berkampanye bagi kandidat mereka, Arif Shah Omar Shah. "Kita tidak diunggulkan. Ini akan menjadi tugas berat, tetapi tidak ada yang tidak mungkin," ujar Najib.

Anwar telah menyatakan akan menggulingkan pemerintahan Barisan Nasional dengan pembelotan dari sejumlah anggota parlemen pada 16 September. Koalisi oposisi Pakta Rakyat memerlukan setidaknya 30 anggota parlemen yang membelot untuk mencapai tujuan itu.

Ambisi itu tak menggentarkan koalisi berkuasa. "Dia jago dalam perang psikologis. Sejauh yang kami perhatikan, 16 September hanyalah imajinasi dia," ujar Mukhriz Mahathir, salah satu anggota parlemen koalisi berkuasa.

Moderat

Pada perkembangan lain, Partai Islam Se-Malaysia (PAS), yang merupakan anggota koalisi oposisi, mulai menerapkan langkah moderat dengan mencabut larangan judi dan alkohol di empat negara bagian yang dikuasai oposisi. Namun, PAS tidak akan berhenti berkampanye melawan perjudian dan alkohol.

"Kami harus memahami realitas politik bahwa kami adalah bagian dari koalisi dan tidak memiliki kekuasaan mutlak. Di bawah pemerintahan seperti ini, kami tetap akan fokus pada nilai-nilai Islam universal, misalnya memerangi korupsi," kata Presiden PAS Abdul Hadi Awang.

Di Kelantan, negara bagian yang dikuasai PAS, partai itu masih menerapkan larangan judi dan alkohol. Mohamad Daud Iraqi, ketua kelompok cendekiawan Muslim PAS, mengatakan, di empat negara bagian lain yang dikuasai oposisi, yaitu Penang, Perak, Kedah, dan Selangor, izin judi dan alkohol harus dikurangi.

"Izin untuk menjual alkohol harus dibatasi atau hanya diperbolehkan di area yang dihuni oleh non-Muslim," kata Mohamad.

PAS tengah mencoba memperbaiki citra garis keras dan meraih dukungan di antara etnis China dan India setelah kalah dalam pemilu tahun 2004. Kekalahan PAS dilihat sebagai suara melawan pendekatan fundamentalis.

Sikap progresif yang mulai ditunjukkan PAS mendapat imbalan setimpal, yaitu dukungan dari pemilih China dan India di perkotaan pada pemilu parlemen tahun 2008. Oposisi berhasil mencuri 82 suara dalam pemilu parlemen dan mengakhiri mayoritas dua pertiga suara Barisan Nasional sejak 1957. (AP/AFP/FRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau