Empat Faktor Indonesia Sasaran Empuk Sindikat Narkoba

Kompas.com - 23/08/2008, 12:18 WIB

MEDAN, SABTU - Setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan Indonesia menarik minat sindikat pengedar narkoba internasional sehingga dijadikan sasaran empuk dan target pemasaran barang terlarang itu.
     
Keempat faktor itu adalah karena Indonesia negara kepulauan, belum canggihnya peralatan yang dimiliki, lemahnya penegakan hukum dan adanya oknum petugas yang dapat disuap, kata praktisi hukum, Julheri Sinaga Sinaga, SH di Medan, Sabtu.
     
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki lebih 17 ribu pulau sehingga dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Kondisi tersebut dimanfaatkan sindikat narkoba internasional karena banyaknya pintu untuk memasukkan barang terlarang itu ke Indonesia.
     
Kenyataan tersebut diperparah dengan belum canggihnya sarana dan prasarana yang dimiliki pemerintah untuk mengantisipasi dan mendeteksi narkoba yang dibawa anggota sindikat itu.
     
Di laut, kapal yang dimiliki Polri dan Angkatan Laut banyak yang sudah tidak layak dipergunakan lagi sehingga diragukan kemampuannya untuk mengejar sindikat pengedar yang mencoba memasukkan narkoba dari jalur laut.
     
Sedangkan di darat, tidak semua pelabuhan dan bandara memiliki peralatan yang mampu mendeteksi masuknya obat terlarang itu. Selanjutnya, kata Sinaga, sindikat narkoba itu tidak merasa jera jika tertangkap petugas karena tidak maksimalnya penegakan hukum di Indonesia.
     
Selain tidak maksimalnya sanksi yang diberikan, anggota sindikat tersebut masih mendapatkan keleluasaan dalam menjalankan aksinya meski dalam penjara sekalipun.
     
Kenyataan tersebut dapat dilihat dari tertangkapnya kurir narkoba di Pelabuhan Belawan, Sumut pada Pebruari 2008 dengan barang bukti heroin 3,3 kilogram yang dibawa dari Laos atas perintah pengedar obat terlarang itu yang merupakan narapidana di LP Banceuy Bandung, Jawa Barat.
     
Lain lagi halnya dengan adanya oknum petugas dan pegawai pemerintah yang bermental korup sehingga dapat diajak berkolusi untuk meloloskan barang perusak masa depan generasi muda tersebut.
     
Akumulasi dari semua kondisi itu menyebabkan Indonesia menjadi sasaran empuk dan lading subur bagi sindikat pengedar narkoba internasional, katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau