Remaja Pegang Kabel, 6 KRL Tertahan

Kompas.com - 25/08/2008, 04:38 WIB

JAGAKARSA, MINGGU - Enam kereta rel listrik (KRL) Jakarta-Bogor tertahan selama sekitar satu jam, Minggu (24/8) sore. Kekacauan itu terjadi setelah seorang remaja tewas tersengat jaringan listrik KRL di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (24/8) sore.

Kondisi tubuh remaja yang hingga Minggu malam masih berada di Kamar Jenazah RSCM, Jakarta Pusat itu sangat mengenaskan. Badannya hangus dan kulitnya mengelupas. Sampai semalam, identitas remaja tersebut belum diketahui. Polisi menduga, remaja yang menemui ajalnya karena nekat naik atap KRL itu berusia 15-19 tahun.

Indra (20), seorang saksi mata, mengatakan remaja nahas itu naik KRL jurusan Jakarta dari Stasiun KA Depok dan langsung naik ke atap. Padahal, kondisi gerbong relatif longgar karena penumpang tidak padat. Menurut seorang petugas PT Kereta Api (KA), penumpang yang naik ke atap biasanya adalah penumpang gelap atau penumpang tak bertiket.

Di Stasiun KA UI, remaja yang mengenakan kaus warna oranye dan celana warna biru tua seperti seragam SMP itu membuang tas yang ia bawa. "Terus, dia megang kabel sehingga kesetrum sampai gosong. Kayaknya dia sengaja, mungkin bunuh diri," ujar pemuda yang juga duduk di atap KRL itu.

Bocah itu kemudian terduduk di atap dalam posisi memeluk pantograf (pengantar listrik dari kabel ke KRL). Pakaian dan tubuhnya yang hangus mengeluarkan asap. Pemandangan mengenaskan itu dilihat para calon penumpang di Stasiun Universitas Pancasila. Mereka segera memberi tahu masinis ketika KRL itu berhenti di stasiun.

Untuk mengevakuasi remaja tersebut, petugas PT KA lebih dulu mematikan arus listrik. Evakuasi  berlangsung sekitar satu jam. Petugas menemui kesulitan karena tangan kanan korban terjepit pantograf.

Akibat pemadaman aliran listrik saat evakuasi, enam perjalanan KRL Jakarta-Bogor tertahan di beberapa stasiun selama sekitar satu jam. Upaya evakuasi jenazah remaja tersebut juga menarik perhatian pengendara di Jalan Raya Lenteng Agung sehingga terjadi kemacetan di jalur arah Depok.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau