JAGAKARSA, MINGGU - Enam kereta rel listrik (KRL) Jakarta-Bogor tertahan selama sekitar satu jam, Minggu (24/8) sore. Kekacauan itu terjadi setelah seorang remaja tewas tersengat jaringan listrik KRL di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (24/8) sore.
Kondisi tubuh remaja yang hingga Minggu malam masih berada di Kamar Jenazah RSCM, Jakarta Pusat itu sangat mengenaskan. Badannya hangus dan kulitnya mengelupas. Sampai semalam, identitas remaja tersebut belum diketahui. Polisi menduga, remaja yang menemui ajalnya karena nekat naik atap KRL itu berusia 15-19 tahun.
Indra (20), seorang saksi mata, mengatakan remaja nahas itu naik KRL jurusan Jakarta dari Stasiun KA Depok dan langsung naik ke atap. Padahal, kondisi gerbong relatif longgar karena penumpang tidak padat. Menurut seorang petugas PT Kereta Api (KA), penumpang yang naik ke atap biasanya adalah penumpang gelap atau penumpang tak bertiket.
Di Stasiun KA UI, remaja yang mengenakan kaus warna oranye dan celana warna biru tua seperti seragam SMP itu membuang tas yang ia bawa. "Terus, dia megang kabel sehingga kesetrum sampai gosong. Kayaknya dia sengaja, mungkin bunuh diri," ujar pemuda yang juga duduk di atap KRL itu.
Bocah itu kemudian terduduk di atap dalam posisi memeluk pantograf (pengantar listrik dari kabel ke KRL). Pakaian dan tubuhnya yang hangus mengeluarkan asap. Pemandangan mengenaskan itu dilihat para calon penumpang di Stasiun Universitas Pancasila. Mereka segera memberi tahu masinis ketika KRL itu berhenti di stasiun.
Untuk mengevakuasi remaja tersebut, petugas PT KA lebih dulu mematikan arus listrik. Evakuasi berlangsung sekitar satu jam. Petugas menemui kesulitan karena tangan kanan korban terjepit pantograf.
Akibat pemadaman aliran listrik saat evakuasi, enam perjalanan KRL Jakarta-Bogor tertahan di beberapa stasiun selama sekitar satu jam. Upaya evakuasi jenazah remaja tersebut juga menarik perhatian pengendara di Jalan Raya Lenteng Agung sehingga terjadi kemacetan di jalur arah Depok.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang