PDI-P Deklarasikan Diri Sebagai Rumah Perempuan

Kompas.com - 25/08/2008, 11:12 WIB

JAKARTA, SENIN - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mendeklarasikan dirinya sebagai Rumah Perempuan hari ini, Senin (25/8) di Kantor DPP PDI-P di kawasan Lenteng Agung Jakarta Selatan.

PDI-P sebagai Rumah Perempuan dideklarasikan langsung oleh Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri. Dalam acara yang dihadiri oleh kader-kader perempuan PDI-P, Ketua DPP PDI-P Bidang Pemberdayaan Perempuan, Puan Maharani, mengatakan, deklarasi yang mengusung tema "Bangkit Kepemimpinan Perempuan Indonesia" bertujuan untuk membuka lebar-lebar pintu kepada kaum perempuan, yaitu perempuan yang memiliki jiwa dan semangat nasional.

"Melalui ini, kita mau membuka lebar-lebar pintu, memfasilitasi semua keinginan dan mendidik kader perempuan untuk berpartisipasi dalam ranah politik yang sedang terbuka lebar di Indonesia," ujar Puan dalam sambutannya.

Ia melanjutkan, PDI-P melihat bahwa pada masa ini nasib perempuan makin termarginalkan dengan makin menguatnya kekerasan berbasis gender dan terbelenggu oleh sistem feodalisme.

"Padahal sejarah politik bangsa tidak pernah lepas dari peran perempuan, seperti peran Kartini. Kita ingin melanjutkan perjuangan para pejuang perempuan melalui politik dan sosial budaya melalui kepartaian," tandas putri Megawati ini.

Hal ini juga diakui oleh Megawati bahwa nasib perempuan masih menjadi kendala di PDI-P meski di dalam konstitusi telah diatur bahwa semua lelaki dan perempuan dalam keadaaan yang sama. "Tapi realitanya di masyarakat itu sendiri karena sosial budaya temasuk agama, apa yang dijabarkan dalam konstitusi belum dapat dimaksimalkan," ujar Megawati dalam sambutannya.

Dia menyatakan, dirinya sangat tidak setuju dengan pendapat bahwa perempuan tidak layak untuk maju menjadi pemimpin. Dalam kehidupan sehari-hari pun kerap dijumpai kenyataan perlakuan diskriminatif dalam keluarga terhadap istri atau terhadap anak perempuan. "Namun, jangan sampai dari perempuannya sendiri tidak mau maju," tegas Megawati.

Deklarasi ini akan dilanjutkan dengan Pembekalan Kader Perempuan PDI-P dan pembentukan Posko Ibu dan Anak. Pembekalan Kader Perempuan dilaksaakan selama dua hari 25-26 Agustus 2008 di Hotel Bumi Wiyata Depok.

Melalui pembekalan ini, Puan mengharapkan muncul kader-kader perempuan PDI-P yang militan. "Sehingga bisa diteruskan ke daerah. Kita tidak hanya perlu massa (untuk menang dalam Pemilu), tapi supaya massa juga percaya bahwa kader-kader kita unggul," ujar Puan.

Sementara itu, Posko Ibu dan Anak merupakan pusat pendidikan dan pemberdayaan khusus untuk perempuan karena menurut Puan, dari perempuan-perempuan yang cerdaslah muncul anak-anak yang sehat. "Dari ibu-ibu yang cerdaslah masa depan bangsa ini ditentukan.Nanti kantor DPP, DPW, DPC harus punya posko ini dalam rangka kampanye untuk menunjukkan PDI-P adalah rumah perempuan," tandas Puan.

Selain itu, Puan berjanji akan memasuki ranah politik anggaran untuk mendorong pemerintah membuat pos khusus dalam RAPBN da RAPBD untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau