Megawati: Cantik dan Cerdas Tergantung Mental Perempuan

Kompas.com - 25/08/2008, 11:59 WIB

JAKARTA, SENIN - Slogan 'Ibu Cerdas, Anak Sehat' yang menjadi semangat didirikannya Posko Ibu dan Anak sebagai bagian dari deklarasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sebagai Rumah Perempuan dikritik oleh Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri.

Megawati menuturkan banyak ibu yang cerdas akhirnya hanya memperhatikan dan mempercantik diri sendiri. "Belum tentu dari ibu yang cerdas ada anak-anak sehat, tergantung mentalnya dalam menjalankan peran di keluarga," ujar Megawati dalam deklarasi di Kantor DPP PDI-P di kawasan Lenteng Agung Jakarta Selatan, Senin (25/8).

Akibatnya mental perempuan yang demikian, kebutuhan mendasar anak-anaknya menjadi terabaikan. Ia bercerita, pernah memiliki tetangga seorang perempuan cerdas. Namun, anaknya hanya diberi jajan dan kurang diperhatikan kebutuhan gizinya.  "Cantik dan cerdas itu bukan sekadar penampilan kita. Ibu yang cantik menghasilkan keluarga yang cantik," tegas Megawati.

Untuk itu, Mega mengharapkan melalui posko ini, PDI-P dapat memperlengkapi kader-kader perempuannya secara praktis. Dia mengimbau putrinya, Puan Maharani yang juga adalah Ketua DPP PDI-P Bidang Pemberdayaan Perempuan, untuk menghadirkan ahli gizi di setiap posko untuk mengajarkan kepada para ibu untuk mengerti soal gizi.

"Makanan bergizi tinggi tidak harus dari daging. Tapi juga bisa dari tempe atau ikan. Jadi jangan anggap tempe sebagai makanan miskin," katanya. Ditambahkan, di zaman ini sudah saatnya perepuan tidak lagi tenggelam dalam budaya debat kusir, namun mampu berdebat secara ilmiah. Oleh karena itu, Mega mengharapkan agar perempuan semakin giat membaca buku.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau