Terungkap Skenario Baru, Konversi Tanah di Kemang

Kompas.com - 25/08/2008, 14:43 WIB

JAKARTA, SENIN - Bank Indonesia menempuh sejumlah cara untuk menyikapi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tentang adanya kejanggalan pada laporan Bank Indonesia, terkait hilangnya uang Rp100 miliar dari Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) milik bank sentral itu. Salah satunya, konversi sebidang tanah di Kemang Jakarta Selatan.

Hal ini terungkap dalam sidang kasus tersebut dengan terdakwa Oey Hoey Tiong dan Rusli Simanjuntak di Persidangan Khusus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Senin (25/8). Dalam sidang tersebut Ketua BPK Anwar Nasution memberikan kesaksian.

Pada kesaksiannya terungkap, Direktur Pengawasan Internal BI, Lukman Benyamin, mengirimkan surat ke Burhanuddin Abdullah. Pada surat itu, Lukman mengusulkan BI mengeluarkan hak pinjam pakai atas tanah di Kemang kepada YPPI. Saat ini, tanah tersebut digunakan untuk sekolah milik YPPI.

"Konversi tanah di Kemang milik BI, boleh digunakan YPPI selama 20 tahun," ujar jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi, Agus Salim.

Selama ini, skenario yang muncul ke publik hanya ada dua, yaitu upaya menjadikan bantuan hukum kepada sejumlah mantan pejabat BI menjadi akte pengakuan hutang (APU) dan pembentukan panitia sosial kemasyarakatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau