Demonstran Serbu Kantor Pemerintah

Kompas.com - 27/08/2008, 05:47 WIB

BANGKOK, SELASA - Lebih dari 20.000 pemrotes yang dimotori Aliansi Rakyat untuk Demokrasi menyerbu kompleks gedung Pemerintah Thailand, Selasa (26/8), dan menduduki tiga kantor kementerian. Mereka menuntut Perdana Menteri Samak Sundaravej mundur dari jabatannya.

Sebelum menyerbu gedung pemerintah, tempat Samak berkantor, pemrotes menyerbu stasiun televisi Channel 11 yang dioperasikan oleh pemerintah melalui Badan Penyiaran Nasional Thailand (NBT). Polisi menangkap 80 orang yang bersenjata pistol, tongkat golf, dan pisau saat menyerbu studio Channel 11.

Di gedung pemerintah, sekitar 17.000 pemrotes menerobos barikade polisi dan membanjiri kompleks tersebut. Mereka memasuki gedung Kementerian Keuangan dan Markas Besar Kepolisian Metropolitan Bangkok. Pemrotes juga mengepung gedung Kementerian Pertanian dan Kementerian Transportasi.

Ribuan pemrotes lainnya memenuhi jalanan kota Bangkok sambil melambai-lambaikan bendera Thailand. Mereka mengenakan kaus kuning, warna lambang Raja Bhumibol Adulyadej, dan memblokade sejumlah ruas jalan di sekitar gedung pemerintah.

Pemimpin Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD) Sonthi Limongkul mengatakan, dia tidak akan pergi sampai pemerintahan Samak jatuh. ”Saya tidak akan pergi sampai ada perubahan politik. Jika kalian ingin saya pergi, silakan bunuh saya dan bawa mayat saya pergi dari sini,” katanya.

PAD telah menggelar protes sejak Mei lalu. Mereka menuding pemerintahan Samak hanyalah kepanjangan dari mantan PM Thaksin Shinawatra yang digulingkan lewat kudeta militer tahun 2006.

Ancam aliansi

Protes itu mengancam aliansi partai yang dipimpin Partai Kekuatan Rakyat (PPP), partai Samak. Namun, Samak menyatakan tidak akan mundur. ”Saya tidak akan mengalah. Kabinet saya tidak akan mengalah. Militer dan polisi tidak akan mengalah,” kata Samak seusai memimpin pertemuan mingguan kabinet.

Pertemuan itu terpaksa dipindahkan ke kompleks militer di pinggiran utara Bangkok karena pemrotes memblokade jalan menuju kantor Samak. ”Saya akan tinggal untuk melindungi negara ini. Militer tidak akan membiarkan pemrotes mengambil alih kendali negara ini,” ujar Samak.

Dia mengatakan, polisi akan mengepung kompleks pemerintah dan tidak akan membiarkan perlengkapan atau orang masuk ke kompleks itu sampai semua pemrotes pergi. ”Polisi akan mengambil tindakan tegas terhadap pemrotes. Kesabaran pemerintah sudah hampir habis,” katanya.

Aksi protes di Thailand memunculkan rumor tentang kudeta militer, seperti yang terjadi tahun 2006. Namun, militer meyakinkan bahwa mereka tidak akan melakukan kudeta.

”Militer tidak akan melakukan kudeta. Rakyat bisa yakin soal ini. Ini adalah tugas polisi,” kata Panglima Militer Jenderal Anupong Paochinda.

Juru bicara Kepolisian Nasional Thailand, Surapol Thuanthong, mengatakan polisi tidak akan melawan pemrotes. Polisi hanya akan dilengkapi truk pemadam kebakaran dan ambulans.

Polisi memberikan batas waktu bagi pemrotes hingga pukul 18.00 waktu setempat untuk meninggalkan kompleks pemerintah. Namun, tenggat terlewati tanpa ada tindakan oleh pasukan keamanan.

Meskipun ada kemungkinan respons keras dari Samak, analis mengatakan, dia mungkin bisa menundukkan PAD jika tetap tenang. ”Selama pemerintah menahan diri dalam menanggapi, tetap menurut jalur hukum, tidak bertindak berlebihan, dan menjauhkan diri dari kekerasan fisik atau hukum, (pemerintah) berada di atas angin,” kata Thitinan Pongsudhirak dari Chulalongkorn University, Bangkok.

Bursa saham Thailand anjlok 2,5 persen karena kekhawatiran akan terjadinya kekerasan. ”Pemerintah ini berada di kantor, tetapi tidak memiliki kekuasaan. Kami perlu kejelasan bahwa pemerintah ini masih ada sampai tahun depan,” kata Nick Bibby dari Barclays Capital. (ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau